PBNU Gelar Konsolidasi Pasca Muktamar di Jatim

Surabaya, NU Online Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) melakukan sejumlah rangkaian agenda pasca muktamar ke-33 NU di Jombang tiga bulan lalu. Mereka melakukan kunjungan ke Presiden RI di Istana Negara, pengukuhan pengurus di Masjid Istiqlal, Kirab Hari Santri yang dimulai dari Surabaya dan berakhir di Jakarta, dan konsolidasi dengan pengurus hingga di tingkat bawah. Untuk pertama kali pasca muktamar, PBNU bertemu langsung dengan pengurus MWCNU dan PCNU seprovinsi Jatim yang dikemas dengan tasyakuran Hari Santri di Hotel Empire Palace, Surabaya, Sabtu (14/11). Dalam tasyakuran ini tampak hadir Rais Aam PBNU KH Ma'ruf Amin, Wakil Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar, Katib Aam PBNU KH Yahya C Staquf, Ketum PBNU KH Said Aqil Siroj, Sekjend PBNU H Helmy Faishal Zaini dan beberapa pengurus PBNU lainnya. "Baru pertama kalinya konsolidasi yang diadakan oleh PWNU Jatim bersama pengurus MWCNU dihadiri dua puncuk pimpinan NU, yaitu Rais Aam dan Ketum PBNU," kata Ketua PWNU Jatim KH Hasan Mutawakkil Alallah saat memberikan sambutan atas nama tuan rumah. Sementara Kiai Ma'ruf mengatakan bahwa dirinya terpaksa dan dipaksa oleh anggota Ahlul Halli wal Aqdi untuk menempati posisi Rais Aam. "NU itu harus bergerak, tidak boleh diam, Semua lembaga NU harus bergerak mulai dari PBNU hingga ke pengurus ranting," kata Kiai Ma’ruf di hadapan ribuan pengurus MWCNU se-Jatim. Sementara Gus Yahya menyampaikan, ke depan pengurus NU mulai PBNU sampai Ranting NU harus berani menjawab kebutuhan masyarakat. Misalkan ketika masyarakat membutuhkan orang yang bisa tahlil, istighotsah, menalqin mayit dan lain sebagainya, itu harus pengurus NU yang jawab. "Jangan sampai mereka kebingungunan siapa yang mimpin tahlil dan lain sebagainya," kata Gus Yahya. Ke depan akan ada pelatihan kiai. "Jadi para kiai atau pengurus syuriyah Ranting NU, MWCNU hingga PCNU akan diadakan pelatihan kiai," ungkap Gus Yahya. "Jangan sampai syuriyah, disyuriahkan," lanjutnya. Ditemui di tempat berbeda, Helmy mengatakan program prioritas NU ke depan adalah memberikan layanan dan upaya dalam meningkatkan kualitas warga. "Ada tiga bidang yang menjadi fokus kita, yaitu pendidikan, kesehatan dan pemberdayaan ekonomi," terangnya. (Rof Maulana/Alhafiz K)

| | Read More »

Menyambung Silaturahim

Setelah menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan dan merayakan idul fitri, hal penting yang dilakukan oleh kaum muslimin adalah saling bersillaturahmi. Begitu pentingnya kegiatan itu sehingga jarak yang jauh, besarnya biaya, dan bahkan resiko yang harus ditanggung, tidak menjadi alasan untuk tidak melakukannya. Kegiatan sillaturrahmi seperti itu sudah menjadi kebutuhan bagi semua kalangan.

Selain melalui kegiatan yang disebut mudik, untuk menjalin tali sillaturrahmi orang juga menyelenggarakan halal bi halal di kantor-kantor, sekolahan, kampus, perusahaan, dan lain-lain. Intinya juga sama, ialah berusaha mendekatkan hati di antara sesama. Bahkan, kegiatan yang dilaksanakan beberapa hari setelah hari raya dimaksudkan itu biasanya juga diikuti oleh semua warganya tanpa melihat latar belakang agama yang bersangkutan.

Lewat kegiatan silaturrahmi maupun halal bi halal, persaudaraan dirasakan sebagai suatu yang mahal harganya. Sekalipun dalam kehidupan sehari-hari, orang terlibat dalam persaingan, berebut, bertransaksi, dan bahkan konflik, maka pada saat idul fitri, mereka menganggp orang lain sebagai saudara, sahabat, teman atau kolega yang mahal harganya. Pertemanan menjadi terasa indah. Keindahan itu akan semakin sempurna tatkala dilakukan secara lebih luas, yaitu melampaui batas kelompok, organisasi, madzhab, dan juga agama yang dipeluk.

Perbedaan bukan dijadikan alasan untuk saling mengusai dan apalagi menindas, melainkan untuk saling mengenal antar sesamanya. Setelah mengenal, kemudian seharusnya berlanjut saling memahami, menghargai, dan akhirnya menjadi saling menyayangi, dan bahkan bekerjasama. Tatkala kegiatan semacam itu dilakukan secara luas, yaitu tanpa mengenal batas-batas latar belakang yang bersangkutan, maka hubungan kemanusiaan akan terbangun, dan itulah sebenarnya yang diharapkan dari kegiatan sillaturrahmi itu.

Sillaturrahmi yang dilakukan secara tulus membuahkan hablum minannas. Dalam masyarakat yang semakin terbuka dan majemuk seperti sekarang ini, maka hablum minannas menjadi sangat penting. Akibat kemajuan berbagai jenis teknologi seperti sekarang ini, maka tidak akan mungkin orang menolak kehadiran orang lain ataupun juga paham yang berbeda-beda. Seringkali disebutkan bahwa, hidup bersama dalam perbedaan adalah merupakan ciri khas kehidupan manusia modern. Oleh sebab itu, diperlukan jiwa dan pandangan besar, sehingga paling tidak, masing-masing pihak mampu memahami dan menghargai orang lain.

Islam juga mengajarkan keterbukaan yang demikian itu, termasuk ialah agar melakukan penjelejahan di muka bumi atau travelling ke mana saja. Dalam penjelajahan atau traveling, tentu akan menemukan berbagai jenis orang yang beraneka ragam, baik dari warna kulit, adat istiadat, bahasa daerah, bentuk tubuh, dan juga agama yang berbeda-beda. Perbedaan bukannya dijaladikan alasan untuk saling bermusuhan, melainkan ------menurut petunjuk kitab suci, justru sebaiknya, ialah agar saling mengenal.

Akhir-akhir ini, tanpa penjelajahan secara fisik, sebagai dampak dari semakin canggihnya alat-alat komunikasi dan transportasi, maka perbedaan paham, pandangan, aliran agama yang berbeda-beda bisa dikenali dengan mudah. Tentu, hal semacam itu tidak mustahil melahirkan berbagai jenis resiko. Maka, cara membendungnya, ------lagi-lagi, hanyalah dengan memperkukuh tali sillaturhmi. Lewat sillaturrahmi itu maka berbagai resiko bisa diperkecil. Perbedaan tidak akan melahirkan permusuhan manakala dari masing-masing pihak terjalin silaturrahmi yang kokoh. Wallahu a'lam.

| | Read More »

Penulis-Penulis Pertama Kaidah Fiqh

Menulis - PenulisPada permulaan abad keempat Hijriyah, seorang ulama Hanafiyah bernama Abu al-Hasan Ubaidillah bin al-Husayn al-Karakhi wafat tahun 340 H, memulai pembukuan kaidah fiqh dalam kitabnya, Risalah al-Karakhi. Kaidah-kaidah yang termaktub dalam kitab ini tidak lain adalah tujuh belas kaidah yang dimiliki Abu Thahir. Ketujuh belas kaidah itu oleh al-Karakhi ditambahkan hingga mencapai 37 kaidah. Selain memuat kaidah-kaidah fiqh, Risalah al-Karakhi juga dilengkapi beberapa pembahasan masalah fiqh lainnya. Sekitar seratus tahun berikutnya, Abu Zayd al-Dabbusi (430 H) mengikuti langkah yang dirintis al-Karakhi dengan membukukan kaidah-kaidah fiqh madzhab Hanafi. Abu Zayd menamai hasil karyanya itu dengan nama Ta’sis al-Nazhar.
Hal yang sama juga terjadi pada dua madzhab lainnya, yakni madzhab Maliki dan Syafi’i. Qadli Abdul Wahab al-Baghdadi (422 H) dikenal sebagai ulama pertama yang menulis kitab kaidah fiqh madzhab Maliki. Beliau memberi nama karangannya itu dengan al-Nazhair dan husus mengkaji masalah-masalah fiqhiyyah yang mempunyai kemiripan karakter dan ‘illat hukum.
Sementara dalam madzhab Syafi’i sejak abad kelima Hijriyah Abu Muhammad Abdillah bin Yusuf bin Abdillah al-Juwainy (438 H) mengawali penulisan kitab kaidah madzhab Syafi’i melalui karyanya, al-Furuq. Sesuai dengan namanya, kitab ini sengaja ditulis oleh al-Juwainy guna menelaah masalah-masalah furuqiyah. Jadi, jika Qadli Husayn dikenal sebagai perumus pertama kaidah fiqh Madzhab Syafi’i, maka al-Juwayni dinilai sebagai ulama pertama yang menulis kitab kaidah dalam madzhab yang di dirikan oleh Idris as-Syafi’i ini. Langkah al-Juwayni itu kemudian diikuti oleh Abu al-Abbas al-Jurjani (482 H) melalui karyanya, al-furuq yang juga membahas masalah-masalah furuqiyah.
Sayangnya ketika memasuki abad keenam Hijriyah, gairah penulisan kitab-kitab kaidah mulai melemah kembali. Dalam jangka waktu hampir seratus tahun, tidak ada seorang ulama pun yang menulis kaitab kaidah fiqh yang sampai pada kita selain dua fuqaha madzhab Hanafi, yakni Najm al-Din al-Nasafi (537 H) dan As’ad bin Muhammad bin al-Hasan al-Karabisi (570 H). Najm al-Din al-Nasafi menulis sebuah kitab berjudul Syarh Risalah al-Karakhi yang secara khusus mengomentari dan mengulas kaidah-kaidah yang terkandung dalam Risalah al-Karakhi. Sementara As’ad bin Muhammad bin al-Hasan al-Karabisi menelurkan karyanya, al-furuq yang berisi kajian seputar perbedaan furu’iyyah dan prinsip-prinsip tentang perbedaan tersebut. Selain al-Nasafi dan al-Karabisi, tidak ada ulama lain dari madzhab manapun yang menulis kitab kaidah pada abad ini. Kondisi yang demikian terus berlangsung dalam jangka waktu hampir seratus tahun. Para ulama kemudian menyebut masa pra-fatrah sebagai periode Mutaqaddimin dan masa pasca-fatrah sebagai era ulama mutaakhirin.
Jika ditinjau dari aspek ijtihad, maka sejak periode awal mutaqaddimin hingga masa fatrah, aktivitas ijtihad sebenarnya mengalami kemunduran dibandingkan dengan periode sebelumnya. Para fuqoha masa ini lebih menfokuskan diri untuk mengkaji pendapat-pendapat masing-masing madzhab tanpa ada upaya untuk melakukan ijtihad sendiri. Ranah ijtihad mereka hanya terbatas pada pengulasan dan pengembangan fiqh yang ada di masing-masing madzhab. hal ini mereka lakukan karena adanya suatu anggapan bahwa pintu ijtihad sudah tertutup. Mereka menilai bahwa tidak ada lagi ulama yang memenuhi syarat-syarat menjadi mujtahid mutlaq, yakni mujtahid yang memiliki metode khusus dan memenuhi kapasitas tertentu untuk mencetuskan hukum secara langsung dari nash. Kalaupun ada, maka mereka itu hanya mujtahid fi al-madzhab atau menjadi mujtahid yang ranah ijtihadnya hanya dalam madzhab tertentu dan tidak memiliki metodologi sendiri karena masih mengikuti metodologi imam madzhabnya. Kemunduran aktivitas ijtihad pada masa ini terus berlanjut hingga berabad-abad berikutnya, walaupun dalam segi penulisan kitab fiqh dan kaidah fiqh.
Oleh: Muhammad Mahrus
Pondok Pesantren Daarul Falah – Ciloang – Serang Banten
Link: http://www.daarulfalah.com/2014/06/penulis-penulis-pertama-kaidah-fiqih.html

| | Read More »

Sukseskan KH Abdul Wahab Chasbullah Award 2014


Dalam rangka meneladani kiprah dan perjuangan pendiri NU, KH Abdul Wahab Chasbullah, keluarga besar almaghfurlah mempersembahkan KH Abdul Wahab Chasbullah Award 2014. Penghargaan ini akan diberikan kepada sosok yang memiliki karakteristik kepeloporan sebagaimana sosok Kiai Wahab.
Kegiatan ini digelar sebagai bagian dari rangkaian acara Haul KH Abdul Wahab Chasbullah ke-43. Berikut ini ketentuannya:

KATEGORI AWARD

KH Abdul Wahab Chasbullah Award 2014 akan dibagi menjadi tiga kategori yang merujuk kepada tiga pilar utama berdirinya Jam’iyah Nahdlatul Ulama, yaitu:
  1. Kategori Pelopor Pendidikan
  2. Kategori Pelopor Pengembangan Ekonomi
  3. Kategori Penggerak Jam’iyah NU

SIAPA YANG BISA DIUSULKAN?

Setiap individu yang memiliki karakteristik kepeloporan dalam tiga bidang di atas, dapat diusulkan menjadi nominator penerima award. Setiap warga masyarakat dan/atau lembaga dapat mengajukan usulan nominator dengan mengirimkan formulir usulan yang dapat diunduh di www.tambakberas.or.id

TAHAPAN PENILAIAN

  1. Pengajuan Usulan Nominator, 16 Juli – 15 Agustus 2014.
  2. Verifikasi Usulan Nominator, 16-25 Agustus 2014.
  3. Pengumuman Peraih Award, 30 Agustus 2014.
  4. Penyerahan KH Abdul Wahab Chasbullah Award, bersamaan dengan puncak HAUL ke 43 al maghfurlah, 6 September 2014.

DEWAN JURI

  1. Unsur Keluarga al maghfurlah KH Abdul Wahab Chasbullah
  2. Unsur PWNU Jawa Timur
  3. Unsur Media Massa

INFORMASI

Informasi lebih lanjut tentang KH Abdul Wahab Chasbullah Award dapat diperoleh di Sekretariat panitia Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang atau kunjungi www.tambakberas.or.id. Contact Person: Gus Hanan Majdi (081234490382) , Drs. Faizun Amir (081553438002)

| | Read More »

Perjalanan Sptirual Rosulullah


Maha SuciAllah yang telah memperjalankan hamba-Nyapada suatu malamdari MasjidilHaram ke Masjidal-Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnyaagar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Al-Isra, Ayat 1)
Hari ini adalah hari ke-17 Ramadhan bertepatan dengan Mikraj Nabi Muhammad Saw. Berdasarkan ayat-ayat al-Quran dan berbagai riwayat mutawatir, Rasulullah Saw yang berada di Mekah mampu melakukan perjalanan dari Masjid al-Haram ke Masjid al-Aqsa di Baitul Maqdis dalam satu malam dan kemudian beliau bersama Malaikat Jibril naik ke langit. Hal itu dilakukan berkat kekuatan dan atas izin Allah Swt.
Dua ayat al-Quran telah menyinggung peristiwa besar tersebut. Surat al-Isra telah menjelaskan perjalanan beliau (Saw) di bumi, sementara Surat  An-Najm Ayat 13-18 menerangkan bagian kedua dari perjalanan beliau, yaitu naik ke tujuh langit. Dalam tafsir Majma al-Bayan, AllamahTabarsi telah menjelaskan ayat-ayat dari surat An-Najm tersebut. Beliau mengatakan, "Yang populer di kalangan kami adalah Allah Swt telah membawa Nabi Muhammad Saw ke langit dengan jasad beliau dan dalam keadaan sadar. "Dengan demikian, Rasulullah Saw melakukan Isra dan Mikraj dengan tubuh dan ruh beliau.  
Di malam Mikraj, Malaikat Jibril turun menemui Nabi Muhammad Saw dengan membawa kendaraan bernama "Buraq"untuk beliau. Rasulullah kemudian menaikinya dan terbang menuju Baitul Maqdis. Dalam perjalanan tersebut, beliau berhenti di beberapa titik untuk mengerjakan shalat. Tempat-tempat singgah beliau di antaranya; Madinah –tempat hijrah beliau di tahun-tahun selanjutnya- Masjid Kufah, Thur Sina dan Baitul Lahm –tempat kelahiran Nabi Isa as- dan kemudian beliau masuk ke Masjid al-Aqsa.
Salah satu keajaiban yang ditunjukkan Allah Swt kepada Nabi Muhammad Saw pada malam tersebut adalah arwah para Anbiya, di mana sekitar 45 ribu Nabi berkumpul di Baitul Maqdis dan bermakmum kepada beliau dalam shalat. Setelah itu, terdengar seruan yang mengatakan, "Wahai Nabi, bertanyalah kepada mereka (Anbiya) yang telah Kami utus sebelum kamu tentang apakah landasan seruan mereka?"Rasulullah Saw kemudian bertanya kepada mereka, dan mereka menjawab, "Dasar dakwah kami adalah `La Ilaha Illallah` dan mengambil janji dari umat kami tentangmu dan saudaramu, Ali."
Setelah itu, Nabi Muhammad Saw memulai perjalanannya ke langit. Beliau melewati tujuh langit satu persatu, di mana di setiap langit beliau menyaksikan fenomena-fenomena baru. Terkadang beliau bertemu dengan para nabi dan malaikat. Di sebagian langit lainnya, beliau menyaksikan surga dan para penghuninya dan neraka beserta para penghuninya. Setiap peristiwa tersebut merupakan kenangan dan pelajaran yang sangat berharga bagi Rasulullah Saw. Peristiwa-peristiwa itu mengandung makna dan rahasia tertentu dari rahasia-rahasia alam semesta.
Setelah kembali dari Mikraj, beliau mampu melihat dunia dan alam semesta dengan pandangan yang lebih luas dan terbuka. Beliau juga mampu berbicara dengan masyarakat dengan bahasa yang berbeda dan dengan hati yang lebih mengenal tentang luasnya lingkaran penciptaan, sehingga beliau mampu memikul tanggung jawab besar sebagai Nabi terakhir dan pembawa risalah penyempurna bagi ajaran-ajaran sebelumnya.
Rasulullah Saw telah menggunakan pengalamannya tentang apa yang beliau saksikan dan dengarkan dalam Mikraj dengan sebaik-baiknya. Dalam kesempatan-kesempatan yang tepat, beliau juga menjelaskannya kepada masyarakat mengenai peristiwa yang beliau saksikan. Selain itu, beliau menggunakan pengalaman itu untuk memberikan pelajaran dan hidayah kepada mereka.
Salah satu hal yang menjadi terang bagi Nabi Muhammad Saw ketika Mikraj adalah tersingkapnya rahasia-rahasia sesuatu, yaitu sisi batin dan apa-apa yang tampak setelah mati. Rasulullah Saw bersabda bahwa Allah Swt telah memperlihatkan kepadanya tentang nasib sekelompok umatnya. Beliau bersabda: aku melihat sekelompok orang yang memiliki perut yang sangat besar, bahkan mereka tidak mampu berdiri karena perut yang sangat besar tersebut. Aku bertanya kepada Jibril tentang mereka. Jibril menjawab bahwa mereka adalah para pemakan riba.
Kemudian aku melewati sekelompok orang yang di depan mereka terdapat hidangan daging yang bersih dan daging yang kotor, namun mereka memakan daging yang kotor dan membiarkan yang bersih. Aku bertanya kepada Jibril, siapakah mereka? Jibril mengatakan, mereka adalah umatmu yang memakan harta haram dan meminjamkan harta yang halal. Aku melihat orang-orang yang memasukkan api ke dalam mulut mereka. Setelah aku bertanya kepada Jibril tentang mereka, Jibril mengatakan bahwa mereka adalah orang-orang yang memakan harta anak-anak yatim.

Nabi Muhammad Saw melihat di surga ada para malaikat yang sedang membangun rumah dan gedung mewah. Mereka meletakkan satu bata emas dan satu bata perak. Mereka terkadang berdiri dan tidak bekerja. Aku berkata: apa yang kalian lakukan? Mereka menjawab: kami sedang membuat rumah untuk umatmu. Aku bertanya mengapa kalian terkadang berdiri dan tidak bekerja? Mereka menjawab, setiap umatmu mengucapkan "Subhanallah, wal Hamdulillah, wa Laa Ilaaha Illallah, wallahu Akbar,"kami membangunnya, tetapi ketika umatmu tidak mengatakannya, maka kami hanya berdiri saja.
Dalam kitab Biharul Anwar disebutkan bahwa Amirul Mukminin Ali as berkata,"Aku dan Fatimah (as) datang kepada Rasulullah (Saw) dan melihat beliau sedang menangis tersedu-sedu. Fatimah (as) bertanya kepada beliau tentang penyebab beliau menangis. Rasulullah Saw bersabda: "Suatu malam ketika aku pergi ke langit (Mikraj), aku melihat perempuan-perempuan dari umatku yang sedang diazab berat, dan aku menangis atas beratnya azab yang mereka alami."
Mendengar jawaban Rasulullah Saw, Sayidah Fatimah bertanya kepada ayahnya itu, "Ayahku tercinta, apa yang telah mereka perbuat sehingga Allah Swt memberikan azab seperti itu? "Rasulullah Saw menjawab, perempuan yang digantung dengan rambutnya adalah perempuan yang tidak menutup rambutnya dari pandangan laki-laki bukan muhrim, dan perempuan yang digantung dengan lidahnya adalah wanita yang menyakiti suaminya dengan ucapannya, dan perempuan yang memakan daging tubuhnya sendiri adalah perempuan yang menghias dirinya untuk laki-laki bukan muhrim, serta wanita yang berkepala babi dan badannya berbadan keledai adalah wanita pembohong dan penyebar aib orang lain.
Dalam Mikraj-nya, Nabi Muhammad Saw melewati langit satu persatu dan di setiap langit itu beliau bertemu dengan para nabi. Setelah sampai ke suatu tempat yang terselubung cahaya, Malaikat Jibril berhenti dan kepada beliau berkata: "Pergilah!" Rasulullah Saw berkata: "Wahai Jibril, engkau membiarkanku sendiri di tempat seperti ini dan menjauh dariku?" Jibril berkata, "Wahai Muhammad Saw jika aku ikut ke atas maka sayapku akan terbakar." Di situlah Allah Swt berbicara kepada kekasih-Nya dan berdialog panjang.
Salah satu pertanyaan Nabi Muhammad kepada Allah Swt dalam peristiwa tersebut adalah mengenai amal perbuatan yang baik. Beliau bertanya: Wahai Tuhan-ku! Amal apakah yang afdhal? Allah Swt berfirman, "Tidak ada yang lebih mulia di sisiku dari tawakal kepada-Ku dan ridha atas pembagian-Ku."Wahai Muhammad! Mereka yang saling mencintai karena Aku, maka kecintaan-Ku meliputi mereka, dan orang-orang yang baik dan belas kasih karena Aku, dan karena Aku pula mereka menjalin persahabatan, maka Aku mencintai mereka dan kasih sayang-Ku wajib bagi mereka yang bertawakal kepada-Ku. Ketahuilah bahwa kecintaan-Ku tidak ada batasnya!
Sekembalinya dari Mikraj, Nabi Muhammad turun ke Baitul Maqdis dan dari sana menuju ke Mekah dengan menunggangi "Buraq."Di pagi harinya, beliau menjelaskan peristiwa Mikraj kepada masyarakat. Beliau juga menerangkan kepada masyarakat tentang peristiwa-peristiwa yang sedang terjadi di antara jalan Mekah dan Baitul Maqdis untuk membuktikan kebenaran cerita beliau.
Masyarakat Quraish kepada Nabi Muhammad Saw berkata: terangkan kepada kami tentang kafilah Quraish. Beliau bersabda, "Aku melihat mereka di tempat peristirahatan Tan`im (di permulaan Mekah) dan di belakang mereka menyusul unta abu-abu yang sedang berjalan. Mereka meletakkan tandu di atas unta dan sekarang sedang memasuki kota Mekah."
Setelah mendengar jawaban tersebut, masyarakat pergi ke lembah Tan`im dan melihat kafilah yang sedang berjalan seperti yang dikatakan oleh Rasulullah Saw. Pada hari-hari berikutnya, masyarakat sudah tidak meragukan lagi tentang tanda-tanda yang diceritakan oleh beliau dan mereka meyakini bahwa beliau telah melakukan perjalanan dari Mekah ke Baitul Maqdis berkat mukjizat Allah Swt. (IRIB Indonesia/RA)

Sumber : 

| | Read More »

Manuasia - Agama dan Kesempurnaan Hidup

Manusia untuk mencapai kesempurnaan dan kebahagiaan abadi harus memilih jalan yang benar bagi kehidupannya. Namun untuk memilih jalan yang benar tersebut tidaklah mudah. Pasalnya, banyak penghalang, bahaya dan hambatan yang menghadang. Allah Yang Maha Bijaksana tentunya tidak akan membiarkan manusia begitu saja. Allah Swt telah memberikan petunjuk kepada manusia untuk sampai kepada kebahagiaan dan mewujudkan bakat-bakat yang ada dalam dirinya. Salah satu petunjuk tersebut adalah melalui turunnya wahyu. Hal ini sebagai salah satu argumen terpenting bahwa manusia membutuhkan agama.
 
Salah satu pertanyaan mendasar manusia adalah apa manfaat agama bagi dirinya? Mengapa manusia harus beragama dan apakah mungkin manusia hidup tanpa agama?
 
Sejak penciptaan manusia, telah ada kecenderungan mendalam dalam diri setiap manusia untuk menyembah. Agama adalah anugerah besar Tuhan bagi manusia dan agama selalu ada bersama manusia. Berdasarkan bukti-bukti dan dokumen sejarah, semua masyarakat memiliki kecenderungan terhadap agama. Hal ini membuktikan bahwa agama adalah kebutuhan mendasar bagi manusia.
 
Manusia adalah makhluk yang kompleks dan penuh rahasia, dan dianggap sebagai dunia yang lebih besar dari pada alam semesta. Sejak awal penciptaan, manusia telah berusaha untuk mengenal dirinya, kebutuhannya dan cara untuk memenuhi semua tuntutan tersebut. Upaya manusia untuk memahami hakikat dan mengenal dirinya dengan benar serta memahami alam semesta, telah menyebabkan munculnya berbagai aliran. Amat jelas bahwa jika satu aliran keyakinan tidak dapat menjawab tuntutan mendasar manusia, maka aliran tersebut tidak akan mampu bertahan lama dan dengan sendirinya akan hilang.
 
Manusia adalah wujud yang terdiri dari jiwa dan raga. Ia selalu berusaha memenuhi kebutuhan material dan spiritualnya untuk meraih kebahagiaan dan kesempurnaan. Untuk itu, manusia memerlukan agenda yang benar yang dapat menjamin kebahagiaan material dan spiritualnya itu. Dengan demikian, manusia harus memperhatikan semua aspek keberadaannyadan mengenal baik jalan yang mengantarkannya kepada kesempurnaan. Jika hal tersebut terpenuhi, maka kebahagiaan yang diinginkan manusia akan terwujud.
 
Allamah Thabathabai, filsuf besar Iran menegaskan bahwa agenda kehidupan manusia harus sejalan dengan fitrah dan penciptaan manusia serta komprehensif. Beliau menulis, "Allah Swt memandu setiap makhluk-Nya termasuk manusia menuju kepada kebahagiaan dan tujuan penciptaan yang khusus pada diri makhluk tersebut. Jalan nyata bagi manusia dalam mengarungi kehidupan adalah jalan yang diserukan oleh Tuhannya."
 
Untuk menjelaskan ungkapan tersebut, Allamah Thabathabai menambahkan, "Tuntutan agama fitrah adalah tidak mengabaikan semua potensi yang ada pada diri manusia. Kapasitas dan daya tarik dan daya tolak seperti kecenderungan emosional yang ada pada diri manusia, akan disesuaikan dan diatur. Setiap dari kecenderungan tersebut dibiarkan sejauh tidak mengganggu yang lainnya. Selain Tuhan, siapa pun tidak layak untuk meletakkan hukum syariat/peraturan dan menentukan kewajiban manusia. Sebab, peraturan dan hukum dalam kehidupan manusia akan efisien jika ditentukan dari jalan penciptaan. Dengan demikian, faktor internal dan eksternal akan mengajak manusia untuk mengamalkanya."
 
Allah Swt menciptakan manusia dan meletakkan berbagai kebutuhan pada dirinya serta memberikan kecenderungan dan keinginan untuk mencapai kesempurnaan. Manusia untuk mencapai kesempurnaan dan kebahagiaan abadi harus memilih jalan yang benar bagi kehidupannya. Namun untuk memilih jalan yang benar tersebut tidak mudah. Pasalnya, banyak penghalang, bahaya dan hambatan yang menghadang. Allah Yang Maha Bijaksana tentunya tidak akan membiarkan manusia begitu saja dan Dia telah memberikan petunjuk kepada manusia untuk sampai kepada kebahagiaan dan merealisasikan bakat-bakat yang ada dalam dirinya. Salah satu petunjuk tersebut adalah melalui turunnya wahyu. Hal itu adalah salah satu argumen terpenting bahwa manusia membutuhkan agama.
 
Cendekiawan dan pemikir besar Iran, Syahid Murtadha Muthahhari mengenai "Naba" yaitu utusan Allah Swt dan pembawa wahyu bagi manusia, menulis, "Nabi adalah perantara antara manusia dan dunia lain. Sebenarnya nabi adalah jembatan antara manusia dan alam ghaib. Nubuwwah adalah akibat dari kebutuhan manusia kepada wahyu Allah Swt."
 
Akal, indera dan pengalaman manusia terbatas dan tidak dapat memenuhi semua tuntutannya. Dengan demikian, manusia memerlukan agama sebagai petunjuk untuk sampai kepada kebahagiaan dan kesempurnaan yang diinginkan. Meskipun sains dan teknologi semakin maju, namun rahasia tentang manusia tidak dapat diungkap oleh kemajuan ilmu dan teknologi tersebut, bahkan seakan-akan rahasia tentang manusia semakin lama semakin bertambah. Hal tersebut disebabkan alat-alat pengetahuan manusia terbatas dan banyak hal dan rahasia yang tidak dapat dijangkau dan dimengerti oleh alat-alat tersebut.
 
Banyaknya keterbatasan manusia menyebabkan dirinya terpaksa belajar sebagian ilmu pengetahuan dari agama, dan al-Quran telah menyinggung masalah tersebut. Allah Swt dalam Surat al-Baqarah ayat 151 berfirman, "Sebagaimana Kami telah mengutus kepadamu seorang rasul dari golonganmu yang membacakan kepadamu ayat-ayat Kami, menyucikan kamu, mengajari kamu Alkitab dan hikmah serta mengajari kamu apa-apa yang belum kamu ketahui."
 
Ernest Renan, filsuf Perancis dalam tulisannya, menyinggung pengaruh agama terhadap manusia. Ia mengatakan, "Mungkin suatu hari segala sesuatu yang saya cintai akan hancur, dan semua hal yang menyenangkanku akan hilang, tetapi mustahil kecenderungan terhadap agama akan hilang. Kecenderungan ini akan kekal, dan keberadaanku akan menjadi saksi nyata atas kepalsuan materialitas (Paham Materialisme)."
 
Menurut pandangan Will Durant, sejarawan dan penulis Amerika, agama adalah ruh kehidupan. Ia mengatakan, "Hidup tanpa agama, suram dan hina serta seperti jasad tanpa ruh." Al-Quran dalam ayatnya yang indah telah menggambarkan kecenderungan manusia kepada agama, di mana kecenderungan tersebut merupakan fitrah manusia yang terus akan ada. Dalam Surat Ar-Rum ayat 30, Allah Swt berfirman, "Maka hadapkanlah hai Muhammad wajahmu dengan lurus kepada agama Allah (cenderungkanlah dirimu kepada agama Allah). Fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui."
 
Agama adalah metode dan pedoman tepat bagi kehidupan manusia yang mencakup semua dimensi ruh, fisik, individu dan sosial manusia. Agama Islam sebagai agama terakhir dan paling sempurna, sangat memperhatikan tuntutan manusia, baik itu kebutuhan individu mupun sosial. Islam mampu memberikan jawaban logis terhadap tuntutan-tuntutan manusia. Islam sebagai agama komprehensif telah menawarkan kepada manusia agenda dan strategi dalam tiga bagian. Agenda dan strategi tersebut terkait dengan hubungan-hubungan manusia yang terdiri dari: hubungan manusia dengan dirinya, hubungan manusia dengan yang lainnya (alam semesta dan masyarakat) dan hubungan manusia dengan Tuhan.
 
Ajaran Islam selain memperhatikan masalah-masalah duniawi juga memperhatikan masalah kehidupan selanjutnya, yaitu akhirat. Islam mengatur urusan dunia di samping urusan akhirat karena keduanya saling berkaitan. Perhatian Islam terhadap dunia dan akhirat, dan penyelarasan antara urusan materi dan spiritual adalah keistimewaan agama suci tersebut, di mana hal itu telah keluar dari kemampuan manusia.
 
Meskipun pengetahuan dan pencapaian manusia sangat bernilai, namun karena hingga kini tidak mampu mengenal sisi-sisi wujud manusia secara sempurna, maka pengetahuan manusia tidak akan mampu memberikan agenda komprehensif dan meyakinkan bagi kehidupan manusia untuk mencapai kebahagiaan. Pandangan bahwa kemajuan teknologi akan menghapus kebutuhan manusia terhadap agama adalah pandangan yang tidak bersandar pada fakta. Seandaikan pendapat tersebut benar, maka seharusnya sejak berabad-abad lalu, manusia sudah tidak memerlukan agama lagi. Namun kenyataannnya tidak demikian.
 
Sejarah  kontemporer adalah bukti terbaik atas kesalahan pandangan tersebut. Di era modern ini, manusia justru semakin merasa perlu terhadap agama. Oleh karena itu, sains tidak dapat diharapkan akan mampu memenuhi kebutuhan spiritual dan metafisik manusia. Mengenai hal itu, Allamah Thabathabai  mengatakan, "Kemajuan manusia di sebagian ilmu pengetahuan tidak mampu menyelesaikan ketidaktahuan-ketidaktahuan manusia. Ilmu Pengetahuan Alam adalah pelita bagi manusia yang menerangi sebagian ketidaktahuannya, tetapi pelita tersebut tidak mampu menerangi setiap kegelapan. Ilmu psikologi tidak mampu menyelesaikan masalah-masalah perbintangan dan seorang dokter tidak akan mampu menyelesaikan masalah seorang insinyur. Yang jelas, ilmu tentang alam semesta akan asing dengan hal-hal metafisik dan masalah-masalah spiritual serta ruh. Ilmu tersebut tidak mampu mengevaluasi tujuan-tujuan yang diinginkan oleh fitrah manusia." (IRIB Indonesia/RA/NA)

Sumber : http://indonesian.irib.ir

| | Read More »

Agama sebagai Kebutuhan Manusia

Agama sebagai Kebutuhan Manusia
Oleh; Mufdil Tuhri[1]

Abstrak
Menurut sejarah, agama tumbuh bersamaan dengan berkembangnya kebutuhan manusia. Salah satu dari kebutuhan itu adalah kepentingan manusia dalam memenuhi hajat rohani yang bersifat spritual, yakni sesuatu yang dianggap mampu memberi motivasi semangat dan dorongan dalam kehidupan manusia. Oleh karena itu, unsur rohani yang dapat memberikan spirit dicari dan dikejar sampai akhirnya mereka menemukan suatu zat yang dianggap suci, memiliki kekuatan, maha tinggi dan maha kuasa. Sesuai dengan taraf perkembangan cara berpikir mereka, manusia mulai menemukan apa yang dianggapnya sebagai Tuhan. Dapatlah dimengerti bahwa hakikat agama merupakan fitrah naluriah manusia yang tumbuh dan berkembang dari dalam dirinya dan pada akhirnya mendapat pemupukan dari lingkungan alam sekitarnya.[2]
Manusia juga disebut sebagai makhluk yang diciptakan oleh Allah SWT dengan potensi untuk berbuat kebaikan dan keburukan. Dalam bahasa Al-Qur’an ini dikenal dengan Nafs. Disebutkan bahwa, potensi Positif yang dimiliki manusia lebih kuat dari potensi negatifnya, tetapi daya tarik keburukan lebih kuat dari daya tarik kebaikan. Manusia dituntut untuk memelihara dirinya dari kecendrungan-kecendrungan untuk berperilaku negatif maka pada saat itu pula manusia memerlukan agama yang sejatinya menjadi kebutuhan manusia.[3]
Disamping itu, Manusia dalam kehidupannya senantiasa menghadapi berbagai tantangan, baik yang datang dari luar maupun yang datang dari dalam maka, pada saat itu pula pengaruh-pengaruh negatif cenderung memalingkan manusia dari Tuhan. maka, tiada lain yang dibutuhkan manusia pada saat itu ketaatan dalam beragama yang akan membentengi godaan dan tantangan hidup yang demikian ini.
Keyword: Faith, Human, needs

I. Agama dalam berbagai definisi
Agama adalah salah satu istilah dalam bahasa Indonesia yang berasal dari bahasa sanskerta. Istilah ini terambil dari dua kata yaitu a dan gam. A diartikan kesini, tidak dan Gam diartikan Gaan, go, gehen, berjalan-jalan. jadi tidak pergi, tetap ditempat, diwarisi turun-temurun. Agama memang mempunyai sifat yang demikian. Sehingga secara istilah Agama bisa disimpulkan sebagai Peraturan-peraturan Tradisional, ajaran-ajaran, dan kumpulan hukum-hukum. Pendeknya, apasaja yang turun temurun dan ditentukan oleh adat Istiadat.[4]
Dalam Masyarakat Indonesia selain dari kata agama, dikenal juga kata Din dalam bahasa arab, dan Religi dalam  Bahasa Eropa. Kata Dîn dalam bahasa Al-Quran, seringkali dipersamakan dengan  kata agama. Kata tersebut terdiri dari tiga huruf hija’iyah yaitu dâl, yâ’, dan nûn. Bagaimanapun cara anda membacanya, maknanya selalu menggambarkan hubungan antara dua pihak, yang satu lebih tinggi kedudukannya dari yang lain. Seperti dain yang berarti utang, atau dîn yang berarti balasan dan kepatuhan, serta hubungan antara manusia  di tempat rendah dengan Allah Yang Maha Tinggi.[5] Dalam bahasa Semit berarti undang-undang atau hukum.
Adapun kata religi berasal dari bahasa latin menurut satu pendapat demikian Harun Nasution mengatakan, bahwa asal kata religi adalah relegre yang mengandung arti mengumpulkan dan membaca. Pengertian demikian itu juga sejarah dengan isi agama yang mengandung kumpulan cara-cara mengabdi kepada Tuhan yang berkumpul dalam kitab suci yang harus dibaca. Tetapi menurut pendapat lain, kata itu berasal dari kata religere yang berarti mengikat ajaran-ajaran agama memang mengikat manusia dengan Tuhan.[6]
Para pakar mendefinisikan agama dalam berbagai macam pengertian sebut saja John Locke ( 1632-1704 M.), yang menyatakan bahwa “Agama bersifat khusus, pribadi, sumbernya adalah jiwaku dan mustahil bagi yang lain dariku, memberi aku petunjuk, jika jiwaku sendiri enggan menerima petunjuk itu.”
Memang, sebagian pakar telah berusaha menggambarkannya. “Agama adalah     pengetahuan tentang Tuhan dan upaya meneladani-Nya,” kata Seneque (2-66 M). “Agama adalah pengabdian kemanusiaan,” kata Auguste Comte (1798-1857 M).   “Agama adalah sekumpulan petunjuk Ilahi yang disampaikan melalui nabi/rasul untuk menjadi pedoman hidup bagi manusia dan mengantar penganutnya meraih kebahagiaan dunia dan akhirat,” demikian tulis Mahmud Syaltut ( 1960 M). “Beragama  adalah  menjadikan semua kewajiban kita adalah perintah-perintah Tuhan yang suci dan harus dilaksanakan,” begitu menurut Immanuel Kant (1724-1804 M).[7]
Dari berbagai macam pengertian diatas maka, Quraish Shihab menyimpulkan bahwa agama adalah adalah hubungan yang dirasakan antara jiwa  manusia dan satu kekuatan yang Maha Dahsyat, dengan sifat-sifat-Nya yang amat indah dan sempurna, dan mendorong jiwa itu untuk mengabdi dan mendekatkan diri kepada-Nya. Pengabdian itu dilakukan baik karena takut maupun karena berharap memperoleh kasih-Nya yang khusus, atau bisa juga karena dorongan kagum dan cinta. Jika demikian, untuk bisa disebut “beragama”, maka paling tidak ada tiga hal yang harus terpenuhi.
Pertama: Merasakan dalam jiwa tentang kehadiran  satu kekuatan  yang Maha Agung, Yang mencipta  dan mengatur alam raya. Kehadiran-Nya itu bersifat sinambung, bukan saja pada  saat seseorang berada di tempat suci, tetapi setiap saat, baik ketika manusia sadar, maupun saat ia terlena atau tidur; saat ia hidup di dunia ini, maupun setelah kematiannya.
Kedua: Lahirnya dorongan dalam hati untuk melakukan hubungan dengan kekuatan tersebut, suatu hubungan yang terpantul dalam ketaatan melaksanakan apa yang diyakini sebagai perintah atau kehendak-Nya, serta menjauhi larangan-Nya
Ketiga: Meyakini bahwa Yang Maha Agung itu Maha Adil, sehingga pasti akan memberi balasan dan ganjaran sempurna pada waktu yang ditentukan-Nya. Dengan kata lain, keyakinan ini merupakan cerminan kepercayaan tentang adanya hari pembalasan, hari kemudian.[8]
II. Kebutuhan Manusia terhadap Agama
1. Agama Sebagai Fitrah
Dalam  pandangan  Islam,  keberagamaan adalah fithrah (sesuatu yang   melekat   pada   diri   manusia   dan   terbawa   sejak kelahirannya) Demikian dipahami dari firman Allah SWT dalam surat Al-Rum (30): 30.
“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah), (tetaplah  atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah  itu.  Tiada  perubahan  pada  fitrah  Allah. (Itulah)  agama  yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”
Merujuk kepada fitrah yang dikemukakan di atas, dapat  ditarik kesimpulan  bahwa  manusia  sejak  asal  kejadiannya,  membawa potensi beragama yang lurus,  dan  dipahami  oleh  para  ulama sebagai tauhid.
Dalam ayat lain dikemukakan, bahwa:
“Dan  (ingatlah)  ketika  Tuhanmu   mengeluarkan   keturunan anak-anak  Adam  dari  sulbi  mereka,  dan  Allah  mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman), ‘Bukankah Aku  ini  Tuhanmu?’  Mereka  menjawab:  ‘Betul (Engkau Tuhan kami), kami menyaksikan'” (QS Al-A’raf [7]: 172).
Ini berarti manusia tidak dapat melepaskan  diri  dari  agama. Pada hakikatnya pula, Manusia tidak secara fitri merupakan makhluk yang memiliki kemampuan untuk beragama. Hal ini sejalan pula dalam Hadits Rasulullah SAW yang menyatakan bahwa setiap anak yang dilahirkan memiliki fitrah (potensi beragama), maka kedua orang tuanyalah yang menjadikan anak tersebut Yahudi, Nashrani atu Majusi. Tuhan  menciptakan  demikian, karena agama merupakan kebutuhan hidupnya. Memang manusia  dapat  menangguhkannya  sekian  lama –boleh  jadi sampai dengan menjelang kematiannya. Tetapi pada akhirnya, sebelum ruh meninggalkan jasad, ia  akan  merasakan kebutuhan itu .
Bukti bahwa manusia sebagai makhluk yang memiliki potensi beragama ini dapat dilihat melalui bukti historis dan antropologis. Manusia Primitif yang kepadanya tidak pernah datang informasi mengenal tuhan, ternyata mereka mempercayai adanya tuhan sekalipun terbatas daya khayalnya. Selanjutnya, keyakinan-keyakinan tersebut dikenal dengan istilah Dinamisme[9], Animisme[10], dan Politeisme[11] -lebih lanjut lihat Harun Nasution dalam Islam Ditinjau Dari Berbagai Aspeknya-, ini semua membuktikan bahwa manusia mempunyai potensi bertuhan.
Lebih lanjut, Murthada Muthahhari menyebutkan bahwa setidaknya ada 5 Hipotesis yang diajukan mengenai pertumbuhan agama pada manusia. Yaitu Agama produk rasa takut, Agama adalah produk kebodohan, agama sebagai motivasi keterikatan manusia dan pendambaannya kepada keadilandan keteraturan, dan Marxisme.[12]
Kesimpulannya bahwa latar belakang perlunya manusia pada agama adalah karena dalam diri manusia sudah terdapat potensi untuk beragama. Potensi yang beragama ini memerlukan pembiasaan, pengarahan, pengambangan dan seterusnya dengan cara mengenalkan agama kepadanya. Dalam keadaan demikian, Islam mengenal adanya nabi dan rasul yang diutus kepada umat manusia untuk menginformasikan bahwa tuhan yang mereka cari itu adalah Allah, yakni Tuhan yang menciptakan dan wajib disembah. Dengan demikian sebutan Allah bagi tuhan bukanlah khayalan bagi manusia.
2. Kelemahan dan Kekurangan Manusia.
Faktor lainnya yang melatarbelakangi manusia memerlukan agama adalah karena disamping manusia memiliki berbagai kesempurnaan juga memiliki kekurangan. Walaupun manusia itu dianggap sebagai makhluk yang terhebat dan tertinggi dari segala makhluk yang ada di alam ini, akan tetapi mereka mempunyai kelemahan dan kekurangan karena terbatasnya kemampuan tersebut. Selanjutnya dikatakan bahwa manusia menjadi lemah karena di dalam dirinya ada hawa nafsu yang lebih cenderung  mengajak kepada kejahatan, sesudah itu ada lagi iblis yang selalu berusaha menyesatkan manusia dari kebenaran dan kebaikan. Manusia hanya dapat melawan musuh-musuh ini hanya dengan senjata agama.
Allah menciptakan manusia dan berfirman “bahwa manusia itu telah diciptakan-nya dengan batas-batas tertentu dan dalam keadaan lemah. Dalam QS. Al-Qomar : 49.
“Sesungguhnya tiap-tiap sesuatu (terasuk manusia) telah kami ciptakan dengan ukuran (batas) tertentu”
Dalam literatur  Teologi Islam kita jumpai pandangan kaum mu’tazilah yang rasionalis, karena banyak mendahuluka pendapat akal dalam memperkuat argumentasinya dari pada wahyu. Namun demikian mereka sepakat bahwa manusia dengan akalnya memiliki kelemahan. Akal memang mengetahui yang baik dan yang buruk tetapi tidak semua yang baik dan yang buruk dapat diketahui oleh akal.  Dalam hubungan inilah,kaum mu’tazilah mewajibkan pada Tuhan  agar menurunkan wahyu dengan tujuan agar kekurangan yang dimiliki akal  dapat dilengkapi  dengan informasi  yang datang dari wahyu (agama). Dengan demikian, Mu’tazilah secara tidak langsung memandang bahwa manusia memerlukan wahyu.[13]
Untuk mengatasi kelemahan-kelemahan dirinya itu dan keluar dari kegagalan-kegagalan tersebut tidak ada jalan lain kecuali melalui petunjuk wahyu dan agama .
3. Tantangan Manusia
Faktor lain yang menyebabkan manusia memerlukan agama adalah karena manusia adalah karena manusia adalah dalam kehidupan senantiasa menghadapi berbagai tantangan baik dari dalam maupun dari luar. Tantangan dari dalam dapat berupa dorongan dari hawa nafsu dan bisikan syetan sedangkan tantangan dari luar dapat berupa rekayasa dan upaya-upaya yang dilakukan manusia yang secara sengaja berupa ingin memalingkan manusia dari Tuhan. Mereka dengan rela mengeluarkan biaya, tenaga, dan pikiran yang dimanipestasikan dalam berbagai bentuk kebudayaan yang didalamnya mengandung misi menjauhkan manusia dari Tuhan.
Orang-orang kafir itu sengaja mengeluarkan biaya yang tidak sedikit untuk mereka gunakan agar orang mengikuti keinginannya, berbagai bentuk budaya, hiburan, obat-obatan terlarang dan sebagainya dibuat dengan sengaja. Untuk itu upaya untuk mengatasinya dan membentengi manusia adalah dengan mengejar mereka agar taat menjalankan agama. Godaan dan tantangan hidup demikian itu saat ini semakin meningkat sehingga upaya mengamankan masyarakat menjadi penting.
Kesimpulan
Begrson (1859-1941) mengatakan bahwa kita akan menemukan masyarakat manusia tanpa sains, seni dan filsafat tapi tidak pernah ada yang tanpa agama. Agama dalam hal ini diyakini sebagai pembawaan dan kebutuhan dasar manusia yang terus berkembang dalam beragam bentuk.[14] Sejak awal, Islam juga meyakini bahwa kesadaran agama telah ada dalam diri individu manusia.
Inilah Indikasi yang menyebutkan bahwa Agama pada dasarnya adalah kebutuhan Manusia.

[1] Dipresentasikan pada Diskusi mata Kuliah Speaking Skill
[2] Khotimah, Makna Agama dan Munculnya Agama Baru, Jurnal, PDF edition, copied from internet on Saturday, december 12nd‑,2009.
[3] M. Quraish Shihab, Wawasan Al-Qur’an, (Bandung: Mizan, 1996), cet III, h. 286.
[4] Mudjahid Abdul Manaf, Sejarah Agama-Agama, (Jakarta:PT.RajaGrafindoPersada,1996).Hal.1-2
[5] Quraish Shihab, Apa Yang Salah Dalam Keberagamaan Kita?, Artikel Ilmiah diterbitkan oleh Pusat Studi Al-Qur’an (PSQ). http://www.psiq.co.id/artikelbebas
[6] Harun Nasution, Islam Ditinjau dari berbagai aspeknya Jilid 1, (Jakarta:Penerbit Universitas Indonesia, 1985), h. 2
[7] Quraish Shihab, Apa Yang Salah Dalam Keberagamaan Kita?, Artikel Ilmiah diterbitkan oleh Pusat Studi Al-Qur’an (PSQ). http://www.psiq.co.id/artikelbebas
[8] ibid
[9] Kepercayaan pada kekuatan gaib yang ada pada benda-benada tertentu dan berpengaruh pada kehidupan manusia
[10] Kepercayaan yang mengajarkan bahwa setiap benda baik yang bernyawa maupu tidak bernyawa mempunyai roh
[11]  Kepercayaan kepada banyak tuhan, bisa juga dipahami dengan kepercayaan pada dewa-dewa
[12] Murthada Muthahhari, Perspektif Manusia dan Agama, (Bandung:Mizan, 1990), cet V, h. 46
[13] Abuddin Nata, Metodologi Studi Islam, (Jakarta:PT RajaGrafindoPersada,2004), h. 24.
[14] Bustanudin Agus, Agama dalam Kehidupan Manusia;Pengantar Antropologi Agama. (Jakarta:PT.RajaGrafindoPersada, 2006) hal. 3

| | Read More »

Kebutuhan Manusia akan Agama

Manusia memiliki berbagai potensi yang hebat dan unik, baik lahir maupun batin, bahkan pada setiap anggota tubuhnya. Sebagian ahli menyatakan bahwa manusia memiliki potensi-potensi: IQ (Intelligent Quotient), EQ (Emotional Quotient), CQ (Creativity Quotient), dan SQ (Spiritual Quotient). Gardner menemukan multiple-intelligence, yaitu: Kecerdasan visual dan Spasial; Kecerdasan Musik; Kecerdasan Linguistik; Kecerdasan Logik/Matematik; Kecerdasan Kinestetik; Kecerdasan Interpersonal; Kecerdasan Intrapersonal; dan Naturalis. Bahkan ditambah dengan kecerdasan emosional dan spiritual. Sebagai potensi, maka ia masih merupakan kemampuan dasar atau daya yang mempunyai kemungkinan untuk dikembangkan melalui aktivitas belajar secara berkelanjutan. Karena itu,  potensi tersebut perlu diaktualkan, dikembangkan dan diberdayakan secara optimal untuk mencapai kemajuan peradaban manusia. Pentingnya pengembangan dan pembedayaan potensi-potensi tersebut dijelaskan dalam Q.S. An-Nahl: 78 , yang maksudnya: “Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibu-ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan-penglihatan dan aneka hati, agar kamu bersyukur”.
Di dalam ayat tersebut dijelaskan bahwa pada mulanya manusia tidak memiliki pengetahuan atau tidak mengetahui sesuatu pun yang ada di sekelilingnya. Namun demikian, Allah menjadikan baginya pendengaran, penglihatan-penglihatan dan aneka hati sebagai bekal dan alat-alat potensial untuk meraih pengetahuan agar ia bersyukur, yakni dengan menggunakan dan memberdayakan alat-alat tersebut sesuai dengan tujuan Allah menganugerahkannya kepada manusia.
Alat-alat potensial yang diberikan oleh Allah kepada manusia meliputi as-sam’ (pendengaran), al-abshar (penglihatan-penglihatan) sebagai bentuk jamak dari kata al-bashar, dan al-af’idah (aneka hati) sebagai bentuk jamak dari kata al-fu’ad. Penyebutan indera-indera secara berurutan pada ayat di atas mencerminkan tahap perkembangan fungsi indera-indera tersebut. Didahulukannya kata as-sam’ atas al-abshar, merupakan perurutan yang sungguh tepat, karena menurut ilmu kedokteran modern membuktikan bahwa indera pendengaran berfungsi mendahului indera penglihatan. Indera pendengaran mulai tumbuh pada diri anak bayi pada pekan-pekan pertama, sedangkan indera penglihatan baru bermula pada bulan ketiga dan menjadi sempurna menginjak bulan keenam. Adapun al-af’idah atau kemampuan akal dan mata hati yang berfungsi membedakan yang benar dan salah atau yang baik dan buruk, maka alat ini berfungsi jauh sesudah kedua indera (pendengaran dan penglihatan) tersebut.
Di dalam ayat di atas disebutkan kata al-sam’ (pendengaran) dalam bentuk mufrad (tunggal), sedangkan kata al-abshar (penglihatan-penglihatan) dan al-af’idah (aneka hati) dalam bentuk jamak.  Hal ini mengandung makna bahwa apa yang didengar selalu saja sama baik oleh seorang maupun banyak orang dan dari arah mana pun datangnya suara. Ini berbeda dengan apa yang dilihat. Posisi tempat berpijak dan arah pandang seseorang bisa melahirkan perbedaan hasil pandangan. Demikian pula hasil kerja akal dan hati. Hati manusia sekali senang sekali susah, sekali benci dan sekali rindu, tingkat-tingkatnya pun berbeda-beda walaupun obyek yang dibenci dan dirindui sama. Hasil penalaran akal pun dapat berbeda, boleh jadi ada yang sangat jitu dan tepat, dan ada pula yang merupakan kesalahan fatal. Kepala sama berambut, tetapi pikiran bisa berbeda-beda.
Alat-alat potensial yang diberikan oleh Allah kepada manusia tersebut ada yang hanya bisa menangkap obyek-obyek yang bersifat material, seperti pendengaran (as-sam’) dan penglihatan (al-bashar), dan ada pula yang bisa menangkap obyek-obyek immaterial, yaitu al-af’idah (akal pikiran dan hati atau qalbu). Dalam pandangan al-Qur’an ada obyek-obyek yang tidak bisa ditangkap oleh indera pendengaran dan penglihatan, bahkan oleh akal pikiran betapapun tajamnya mata kepala dan pikiran seseorang. Misalnya masalah hakikat Allah, surga, neraka, malaikat, shalat subuh harus dua raka’at sedangkan shalat dhuhur empat rakaat, segala tindakan manusia yang tampak dan tersembunyi akan dilihat oleh Allah dan dicatat oleh malaikat Raqib dan Atid, masalah nasib manusia dan lain-lainnya,  adalah contoh-contoh obyek yang tidak bisa ditangkap dengan akal pikiran. Yang dapat menangkapnya hanyalah hati melalui wahyu, ilham atau intuisi. Karena itu, al-Qur’an di samping menuntun dan mengarahkan pendengaran dan penglihatan, juga memerintahkan agar mengasah akal (daya pikir) dan mengasuh daya qalbu.
Demikian uniknya alat-alat potensial dengan berbagai daya dan kemampuannya yang dimiliki oleh manusia itu dan merupakan nikmat Allah yang patut disyukuri. Karena itu dalam ayat tersebut di atas diakhiri dengan kalimat la’allakum tasykurun (supaya kamu bersyu­kur). Menurut Muhammad Abduh, bahwa yang dinamakan syukur itu tiada lain kecuali menggunakan nikmat anugerah sesuai dengan fungsinya, dan sesuai dengan kehendak yang menganugerahkannya (yaitu Allah SWT.). Memfungsikan dan memberdayakan as-sam’, al-abshar dan al-af’idah secara optimal dalam kehidupan sehari-hari merupakan perwujudan dari syukur kepada-Nya.
Dilihat dari proses kejadiannya, manusia itu terdiri atas dua substansi, yaitu: (1) substansi jasad/materi, yang bahan dasarnya adalah dari materi yang merupakan bagian dari alam semesta ciptaan Allah SWT. dan dalam pertumbuhan dan perkem­bangannya tunduk pada dan mengikuti sunnatullah (aturan, ketentuan, hukum Allah yang berlaku di alam semesta); (2) substansi immateri/non jasadi, yaitu penghembusan/peniupan ruh (ciptaanNya) ke dalam diri manusia, sehingga manusia merupakan benda organik yang mempunyai hakekat kemanusiaan serta mempunyai berbagai alat potensial dan fitrah. Atau menurut al-Farabi, manusia itu terdiri atas dua unsur, yaitu: (1) satu unsur berasal dari ’alam al-khalq; dan (2) satu unsur berasal dari ’alam al-amr (ruh dari perintah Tuhan).
Dari kedua substansi tersebut, maka yang paling esen­sial adalah substansi immateri atau ruhnya. Jasad hanyalah alat ruh di alam nyata. Suatu ketika alat (jasad) itu terpisah dari ruh. Perpisahan itulah yang disebut dengan peristiwa maut. Yang mati adalah jasad, sedangkan ruh akan melanjutkan eksisten­sinya di alam barzah. Manusia yang terdiri atas dua substansi itu, telah dilengkapi dengan alat-alat potensial dan potensi-potensi dasar atau disebut fitrah, yang harus diaktualkan dan atau ditumbuhkembangkan dalam kehidupan nyata di dunia ini mela­lui proses pendidikan, untuk selanjutnya dipertanggung-jawab­kan di hadapanNya kelak di akhirat.
Menurut Abdul Fattah Jalal (1977), bahwa alat-alat potensial manusia yang siap digunakan untuk memperoleh dan mencapai pengetahuan  adalah sebagai berikut: (1) Al-lams dan al-syum (alat peraba dan alat penciuman/ pembau), sebagaimana firman Allah dalam Q.S. al-An’am ayat 7 dan Q.S. Yusuf ayat 94; (2) Al-Sam’u (alat pendengaran). Penyebutan alat ini dihubungkan dengan penglihatan dan qalbu, yang menun­jukkan adanya saling melengkapi antara berbagai alat itu untuk mencapai ilmu pengetahuan. Sebagaimana firman Allah dalam Q.S. al-Isra’ ayat 36, al-Mukminun ayat 78, al-Sajdah ayat 9, al-Mulk ayat 23, dan seba­gainya; (3) Al-abshar (penglihatan). Banyak ayat al-Qur’an yang menyeru manusia untuk melihat dan merenungkan apa yang dilihatnya, sehingga dapat mencapai hakekatnya. Seba­gaimana firman Allah dalam Q.S. al-A’raf ayat 185, Yunus ayat 101, al-Sajdah ayat 27, dan sebagainya; (4) Al-’aql (akal atau daya berfikir). Al-Qur’an memberi­kan perhatian khusus terhadap penggunaan akal dalam berfikir, sebagaimana firman Allah dalam Q.S. Ali Imran ayat 191. Al-Qur’an menjelaskan bahwa Islam tegak di atas pemikiran, sebagaimana firmanNya dalam Q.S. al-An’am ayat 50. Dalam al-Qur^an dinyatakan bahwa penggunaan akal memungkinkan diri manusia untuk terus ingat (dzikr) dan memikirkan/merenungkan cip­taanNya, sebagaimana firmanNya dalam Q.S. al-Ra’d ayat 19. Dan penggunaan akal memungkinkan manusia mengeta­hui tanda-tanda (kebesaran/keagungan) Allah serta mengambil pelajaran daripadanya. Dalam beberapa ayat, kata al-nuha digunakan sebagai makna al-’uqul sebagai­mana firmanNya dalam Q.S. Thaha ayat 53-54, dan seba­gainya; (5) Al-Qalb (kalbu). Hal ini termasuk alat ma’rifah yang digunakan manusia untuk dapat mencapai ilmu, sebagai­mana firmanNya dalam Q.S. al-Hajj ayat 46, Q.S. Muhammad ayat 24 dan sebagainya. Qalbu ini mempunyai kedu­dukan khusus dalam ma’rifah ilahiyah, dengan qalbu manusia dapat meraih berbagai ilmu serta ma’rifah yang diserap dari sumber Ilahi. Dan wahyu itu sendiri diturunkan ke dalam qalbu Nabi Muhammad SAW. sebagai­mana firmanNya dalam Q.S. al-Syu’ara’ ayat 192-194.
Di samping itu Al-Maraghi dalam tafsirnya menjelaskan bahwa manusia itu telah diberi hidayah oleh Allah secara bertingkat-tingkat. Pengertian hidayah di sini, sebagaimana dikemu­kakan oleh Muhammad Rasyid Ridla, ialah petunjuk halus yang memudahkan seseorang untuk mencapai sesuatu yang dicari atau mencapai tujuan. Macam-macam hidayah yang dianugerahkan oleh Allah kepada manusia ialah: (1) hidayah al-ilhami (instink), yakni renyut hati (gerak hati, impuls) yang terdapat dalam bakat manusia maupun binatang. Termasuk di dalamnya nafsu, dorongan untuk melakukan sesuatu, doron­gan tersebut tidak berdasarkan suatu pikiran. Atau dengan kata lain dorongan yang bersifat animal, tidak berda­sarkan pikir panjang; (2) hidayah al-hawasi (indera), yaitu alat badani yang peka terhadap rangsangan dari luar, yang meliputi : al-bashirah (indera penglihatan), al-sami’ah (indera pendengaran), hassah al-tha’m (indera pengecap), hassah al-syum (indera pembau/penciuman), dan hassah al-lams (indera perabaan); (3) hidayah al-’aql (hidayah akal budi); (4) hidayah al-adyani atau hidayah agama; dan (5) hidayah al-taufiqi atau hidayah al-ma’unah.
Hidayah yang pertama dan kedua dianugerahkan baik kepada manusia maupun hewan; hidayah yang ketiga sampai dengan yang kelima hanya diberikan kepada manusia. Dan hidayah yang kelima tersebut (yang tertinggi) semata-mata monopoli Allah, Nabi sekalipun tidak berkompeten untuk memberi hidayah tingkat tertinggi itu. Sebagai contoh, Nabi SAW. tidak mampu memberi hidayah tingkat kelima itu kepada paman beliau, Abu Thalib, yang mencintai beliau dan sangat beliau cintai. Sebagaimana firmanNya dalam Q.S. al-Qashash ayat 56, yang maksudnya bahwa “Engkau (Muhammad) tidak akan bisa memberi hidayah (al-taufiqi/al-ma^unah) ini kepada siapapun yang engkau cintai. Allahlah yang berkenan menganugerahkan hidayah tersebut kepada siapa saja yang dikehendakiNya”.
Dalam diskursus (perbincangan) para filosof Islam, manusia itu mempunyai bermacam-macam alat potensial dengan berbagai kemam­puannya yang sangat unik. Menurut mereka bahwa dalam diri manusia itu terdapat tiga macam jiwa sebagai berikut :
Pertama, jiwa tumbuh-tumbuhan (al-nafs al-nabatiyah), yang mempunyai tiga daya, yaitu: daya makan, daya tumbuh, dan daya membiak. Kedua, jiwa binatang (al-nafs al-hayawaniyah), yang memiliki dua daya, yaitu : daya penggerak (al-muharri­kah), dan daya mencerap (al-mudrikah). Daya penggerak bisa berbentuk nafsu (al-syahwah) serta amarah (al-ghadlab), dan bisa berbentuk gerak tempat (al-harakah al-makaniyah). Daya mencerap terbagi dua, yaitu : daya mencerap dari luar melalui pancaindera lahir (pengliha­tan. pendengaran, penciuman, perasaan lidah, dan perasaan tubuh); dan daya mencerap dari dalam melalui pancaindera batin, yang meliputi: (1) indera bersama (al-hiss al-musytarak) bertempat di bagian depan dari otak dan ber­fungsi menerima kesan-kesan yang diperoleh dari pancain­dera luar dan meneruskannya ke indera batin berikutnya; (2) indera penggambar (al-khayal), juga bertempat di bagian depan dari otak, tugasnya ialah melepaskan kesan-kesan yang diteruskan indera bersama dari materinya; (3) indera pengreka (al-mutakhayyalah), yang bertempat di bagian tengah dari otak, mengatur gambar-gambar yang telah dilepaskan dari materi itu dengan memisah-misah dan kemudian memperhubungkannya satu dengan yang lain; (4) indera penganggap (al-wahmiyah), juga bertempat di bagian tengah dari otak, mempunyai fungsi menangkap arti-arti yang dikandung gambaran-gambaran itu; (5) indera pengin­gat (al-hafidhah), yang bertempat di bagian belakang dari otak, menyimpan arti-arti yang ditangkap indera pengang­gap.
Ketiga, jiwa manusia (al-nafs al-insaniyah) yang hanya mempunyai daya berfikir yang disebut akal. Akal ini terbagi dua, yaitu: akal praktis yang menerima arti-arti yang berasal dari materi melalui indera pengingat yang ada pada jiwa binatang; dan akal teoretis yang menangkap arti-arti murni, arti-arti yang tak pernah ada dalam materi, seperti Tuhan, roh dan malaikat. Dengan demikian, akal praktis memusatkan perhatian kepada alam materi, menangkap kekhususan (particulars), sedangkan akal teore­tis bersifat metafisis, yang mencurahkan perhatian kepada dunia immateri dan menangkap keumuman (universals). Selanjutnya akal teoretis mempunyai empat derajat, yaitu: (1) akal materiil (al-’aql al-hayulani) yang merupakan potensi belaka, dalam arti akal yang kesanggu­pannya untuk menangkap arti-arti murni, arti-arti yang tak pernah berada dalam materi, belum keluar; (2) akal bakat (al-’aql bi al-malakah), yakni akal yang kesanggu­pannya berfikir secara murni abstrak telah mulai keliha­tan, ia telah dapat menangkap pengertian dan kaidah umum, seperti seluruh lebih besar dari bagian; (3) akal aktual (al-’aql bi al-fi’l), yakni akal yang telah lebih mudah dan telah lebih banyak dapat menangkap pengertian dan kaidah umum dimaksud, dan akal aktual ini merupakan gudang bagi arti-arti abstrak itu, yang dapat dikeluarkan setiap kali dikehendaki; dan (4) akal perolehan (al-’aql al-mustafad), yakni akal yang di dalamnya arti-arti abstrak tersebut selamanya sedia untuk dikeluarkan dengan mudah sekali. Akal dalam derajat keempat inilah yang tertinggi dan terkuat dayanya, yang dimiliki filosof, dan yang dapat memahami alam murni abstrak (yang tak pernah berada dalam materi).
Di samping itu, manusia juga mempunyai potensi-potensi dasar yang disebut dengan ”fitrah”. Dari segi bahasa (sebagaimana dijelaskan dalam Kamus Al-Munjid), fitrah berarti: “ciptaan, sifat tertentu yang mana setiap yang maujud disifati dengannya pada awal masa penciptaannya, sifat pembawaan manusia (yang ada sejak lahir), agama, as-sunnah”. Al-Asfahani, ketika menjelas­kan makna fitrah dari segi bahasa, ia mengungkapkan kalimat “fathara Allah al-khalq”, yang maksudnya Allah mewujudkan sesuatu dan menciptakannya bentuk/keadaan  kemampuan untuk melakukan perbuatan-perbuatan. Sedangkan maksud fitrah Allah, sebagaimana dalam Q.S. al-Rum ayat 30, adalah suatu kekuatan/daya untuk mengenal/mengakui Allah  (keimanan kepadaNya) yang menetap/menancap di dalam diri manusia. Dengan demikian, makna fitrah adalah suatu kekuatan atau kemampuan (potensi terpendam) yang menetap/menancap pada diri manusia sejak awal keja­diannya, untuk komitmen terhadap nilai-nilai keimanan kepadaNya, cenderung kepada kebenaran (hanif), dan poten­si itu merupakan ciptaan Allah.
Menurut Langgulung, bahwa ketika Allah menghembuskan/meniupkan ruh pada diri manusia (pada proses kejadian manusia secara non fisik/immateri), maka pada saat itu pula manusia (dalam bentuknya yang sempurna) mempunyai sebagian sifat-sifat ketuhanan sebagaimana yang tertuang dalam al-Asma’ al-Husna, hanya saja kalau Allah serba Maha, sedangkan manusia hanya diberi seba­giannya. Sebagian sifat-sifat ketuhanan yang menancap pada diri manusia dan dibawanya sejak lahir itulah yang disebut fitrah. Misalnya: al-’Aliim (Maha Mengetahui), manusia juga diberi kemampuan/potensi untuk mengetahui sesuatu; al-Rahman (Maha Pengasih) dan al-Rahiim (Maha Penyayang), manusia juga diberi kemampuan untuk mengasihi dan menyayangi orang lain; al-’Afuw al-Ghafur (Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun), manusia juga diberi kemam­puan untuk memaafkan dan mengampuni kesalahan orang lain; al-Khaliq (Maha Pencipta), manusia juga diberi kemampuan untuk mengkreasi sesuatu, membudayakan alam; al-Lathif al-Khabir (Maha Lembut lagi Maha Mengetahui segala sesua­tu yang nampak maupun tersembunyi), manusia juga diberi kemampuan/ potensi untuk merahasiakan sesuatu atau dirin­ya dan kemampuan mengetahui fenomena sosial atau rahasia alam; al-Qadir (Maha Kuasa), manusia juga diberi kemam­puan untuk berkuasa; al-’Adil (Maha Adil), manusia juga diberi kemampuan untuk berlaku adil; al-Murid (Maha Berkehendak), manusia juga diberi potensi untuk berkehen­dak, mempunyai motivasi untuk berbuat; al-Hadi (Maha Pemberi Petunjuk), manusia juga diberi kemampuan untuk mendidik atau memberi pengajaran; demikian seterusnya.
Pemahaman tentang fitrah manusia juga bisa dikaji dari ajaran agama Islam sebagaimana yang ditunjukkan  dalam al-Qur’an dan as-sunnah, karena di dalam Q.S. al-Rum ayat 30 dinyatakan bahwa agama Islam bersesuaian benar dengan fitrah manusia. Ajaran Islam – yang hendaknya dipatuhi oleh manusia – itu sarat dengan nilai-nilai Ilahiyah yang universal dan manusiawi yang patut dikembangkan dalam berbagai aspek kehidupan manusia. Bahkan segala perintah dan laranganNya pun erat berhubungan dengan fitrah manu­sia.
Bila ditinjau dari aspek tersebut, maka fitrah manusia itu cukup banyak macamnya, yang terpenting di antaranya, yaitu: (1) fitrah beragama, yang merupakan potensi bawaan yang mendorong manusia untuk selalu pasrah, tunduk dan patuh kepada Tuhan yang menguasai dan mengatur segala aspek kehidupan manusia; dan fitrah ini merupakan sentral yang mengarahkan dan mengontrol perkembangan fitrah-fitrah lainnya; (2) fitrah berakal budi merupakan potensi bawaan yang mendorong manusia untuk berfikir dan berdzikir dalam memahami tanda-tanda keagun­gan Tuhan yang ada di alam semesta, berkreasi dan berbu­daya, serta memahami persoalan dan tantangan hidup yang dihadapinya dan berusaha memecahkannya; (3) fitrah keber­sihan dan kesucian, yang mendorong manusia untuk selalu komitmen terhadap kebersihan dan kesucian diri dan lingkungannya; (4) fitrah bermoral/berakhlak, yang mendorong manusia untuk komitmen terhadap norma-norma atau nilai-nilai dan aturan yang berlaku; (5) fitrah kebenaran, yang mendorong manusia untuk selalu mencari dan mencapai kebenaran; (6) fitrah kemerdekaan yang mendorong manusia untuk bersikap bebas/merde­ka, tidak terbelenggu dan tidak mau diperbudak oleh sesuatu yang lain kecuali oleh keinginannya sendiri dan kecintaannya kepada kebaikan; (7) fitrah keadilan yang mendorong manusia untuk berusaha menegakkan keadilan di muka bumi; (8) fitrah persamaan dan persatuan yang mendorong manusia untuk mewujudkan persamaan hak serta menentang diskriminasi ras, etnik, bahasa, dan sebagainya, dan berusaha menjalin kesatuan dan persatuan di muka bumi; (9) fitrah individu yang mendorong manusia untuk bersikap mandiri, bertanggung jawab atas segala tindakan yang dilakukan, mempertahankan harga diri dan  kehormatannya, serta menjaga keselamatan diri dan hartanya; (10) fitrah sosial yang mendorong manusia untuk hidup bersama, bekerjasama, bergotong royong, saling membantu dan sebagainya; (11) fitrah seksual yang mendorong seseorang untuk mengembangkan keturunan (berkembang biak), melanjutkan keturunan, dan mewariskan tugas-tugas kepada generasi penerusnya; (12) fitrah ekonomi yang mendor­ong manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya melalui aktivitas ekonomi; (13) fitrah politik yang mendorong manu­sia untuk berusaha menyusun suatu kekuasaan dan institusi yang mampu melindungi kepentingan bersama; (14) fitrah seni yang mendorong manusia untuk menghargai dan mengembang­kan kebutuhan seni dalam kehidupannya; dan fitrah-fitrah lainnya.
Alat-alat potensial dan berbagai potensi dasar atau fitrah manusia tersebut harus ditumbuhkembangkan secara optimal dan terpadu melalui proses pendidikan sepanjang hayatnya. Manusia diberi kebebasan/kemerdekaan untuk berikhtiar mengembangkan alat-alat potensial dan potensi-potensi dasar atau fitrah manusia tersebut. Namun demi­kian dalam pertumbuhan dan perkembangannya tidak bisa dilepaskan dari adanya batas-batas tertentu, yaitu adanya hukum-hukum yang pasti dan tetap yang menguasai alam, hukum yang menguasai benda-benda maupun masyarakat manu­sia sendiri, yang tidak tunduk dan tidak pula bergantung kepada kemauan manusia. Hukum-hukum inilah yang disebut dengan taqdir (“Keharusan Universal” atau “kepastian umum” sebagai batas akhir dari ikhtiar manusia dalam kehidupannya di dunia). Di samping itu, pertumbuhan dan perkembangan alat-alat potensial dan fitrah manusia itu juga dipengaruhi oleh faktor-faktor hereditas, lingkungan alam dan geografis, lingkungan sosio-kultural, sejarah dan faktor-faktor temporal.

Sumber :  http://pasca.uin-malang.ac.id

| | Read More »

Khutbah Idul Fitri 1435 H / 2014 M

PESAN DAN KESAN RAMADHAN YANG HARUS DIPEGANGTEGUH BERSAMA

KHUTBAH PERTAMA


اللهُ اَكْبَرْ (3×) اللهُ اَكْبَرْ (3×) اللهُ اَكبَرْ (3×) اللهُ اَكْبَرْ كُلَّمَا هَلَّ هِلاَلٌ وَاَبْدَرَ اللهُ اَكْبَرْ كُلَّماَ صَامَ صَائِمٌ وَاَفْطَرْ اللهُ اَكْبَرْكُلَّماَ تَرَاكَمَ سَحَابٌ وَاَمْطَرْ وَكُلَّماَ نَبَتَ نَبَاتٌ وَاَزْهَرْوَكُلَّمَا اَطْعَمَ قَانِعُ اْلمُعْتَرْ. اللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ وَ للهِ اْلحَمْدُ. اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِى جَعَلَ لِلْمُسْلِمِيْنَ عِيْدَ اْلفِطْرِ بَعْدَ صِياَمِ رَمَضَانَ وَعْيدَ اْلاَضْحَى بَعْدَ يَوْمِ عَرَفَةَ. اللهُ اَكْبَرْ (3×) اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ لَهُ اْلمَلِكُ اْلعَظِيْمُ اْلاَكْبَرْ وَاَشْهَدٌ اَنَّ سَيِّدَناَ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الشَّافِعُ فِى اْلمَحْشَرْ نَبِيَّ قَدْ غَفَرَ اللهُ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَا تَأَخَّرَ. اللهُمَّ صَلِّ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ الَّذِيْنَ اَذْهَبَ عَنْهُمُ الرِّجْسَ وَطَهَّرْ. اللهُ اَكْبَرْ. اَمَّا بَعْدُ. فَيَا عِبَادَاللهِ اِتَّقُوااللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

Jama'ah sholat Idul Fitri rahimakumullah

Sejak tadi malam telah berkumandang alunan suara takbir, tasbih, tahmid dan tahlil sebagai bentuk ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT atas kemenangan besar yang kita peroleh setelah menjalankan ibadah puasa Ramadhan selama satu bulan penuh. Sebagaimana firman Allah SWT:



وَلِتُكْمِلُوااْلعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُاللهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ ولَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ


“Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.”


Rasulullah SAW bersabda:

زَيِّنُوْا اَعْيَادَكُمْ بِالتَّكْبِيْر


“Hiasilah hari rayamu dengan takbir.”

Takbir kita tanamkan ke dalam lubuk hati sebagai pengakuan atas kebesaran dan keagungan Allah SWT sedangkan selain Allah semuanya kecil semata. Kalimat tasbih dan tahmid, kita tujukan untuk mensucikan Tuhan dan segenap yang berhubungan dengan-Nya.

Tidak lupa puji syukur juga kita tujukan untuk Rahman dan Rahim-Nya yang tidak pernah pilih kasih kepada seluruh hambanya. Sementara tahlil kita lantunkan untuk memperkokoh keimanan kita bahwa Dia lah Dzat yang maha Esa dan maha kuasa. Seluruh alam semesta ini tunduk dan patuh kepada perintah-Nya.


اللهُ اَكْبَرْ (3×) وَ للهِ اْلحَمْدُ


Jamaah Idul Fitri rahimakumullah 

Setelah satu bulan penuh kita menunaikan ibadah puasa dan atas karunia-Nya pada hari ini kita dapat berhari raya bersama, maka sudah sepantasnya pada hari yang bahagia ini kita bergembira, merayakan sebuah momentum kemenangan dan kebahagiaan berkat limpahan rahmat dan maghfiroh-Nya sebagaimana yang tersurat dalam sebuah hadis Qudsi:

اِذَا صَامُوْا شَهْرَ رَمَضَانَ وَخَرَجُوْا اِلىَ عِيْدِكُمْ يَقُوْلُ اللهُ تَعَالىَ: يَا مَلاَئِكَتِى كُلُّ عَامِلٍ يَطْلُبُ اُجْرَهُ اَنِّى قَدْ غَفَرْتُ لَهُمْ فَيُنَادِى مُنَادٌ: يَا اُمَّةَ مُحَمَّدٍ اِرْجِعُوْااِلَى مَنَازِلِكُمْ قَدْ بَدَلْتُ سَيِّئَاتِكُمْ حَسَنَاتٍ فَيَقُوْلُ اللهُ تَعَالَى: يَا عِبَادِى صُمْتُمْ لِى وَاَفْطَرْتُمْ لِى فَقُوْمُوْا مَغْفُوْرًا لَكُمْ

Artnya: “Apabila mereka berpuasa di bulan Ramadhan kemudian keluar untuk merayakan hari raya kamu sekalian maka Allah pun berkata: 'Wahai Malaikatku, setiap orang yang mengerjakan amal kebajian dan meminta balasannya sesungguhnya Aku telah mengampuni mereka'. Sesorang kemudian berseru: 'Wahai ummat Muhammad, pulanglah ke tempat tinggal kalian. Seluruh keburukan kalian telah diganti dengan kebaikan'. Kemudian Allah pun berkata: 'Wahai hambaku, kalian telah berpuasa untukku dan berbuka untukku. Maka bangunlah sebagai orang yang telah mendapatkan ampunan.” 


اللهُ اَكْبَرْ (3×) وَ للهِ اْلحَمْدُ

Jama`ah Idul Fithri yang berbahagia

Seiring dengan berlalunya Bulan suci Ramadhan. Banyak pelajaran hukum dan hikmah, faidah dan fadhilah yang dapat kita petik untuk menjadi bekal dalam mengarungi kehidupan yang akan datang. Jika bisa diibaratkan, Ramadhan adalah sebuah madrasah. Sebab 12 jam x 30 hari mulai terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari, semula sesuatu yang halal menjadi haram. Makan dan minum yang semula halal bagi manusia di sepanjang hari, maka di bulan Ramadhan menjadi haram. 

Tapi setelah semua cobaan yg kita lewati pernahka kita memperhatikan aspek social Ramadhan, semua orang pernah merasa kenyang tapi tidak semuanya pernah merasakan lapar.



Lihatlah diri kita, bukankah seringkali kita merasa paling besar, gumedhe, jumawa seolah-olah semua manusia kecil dan harus takluk dihadapan kita. Kita berlagak seolah kita adalah Tuhan yang kuasa atas segala keadaan. Tidakkah kita sadar, bahwa kita sesungguhnya tidak lain adalah makhluk yang sangat-sangat lemah, maka kepada siapa lagi kita berharap selain kepada Allah swt yang telah menciptakan kita dan dengan kasih saying Allahlah kita diberi kesempatan menikmati hidup di dunia milik Allah ini.

Maka apa sesungguhnya yang menahan kaki kita tidak mau melangkah ke masjid ?

Apakah yang menahan kepala kita sehingga tidak mau menunduk ke tanah bersujud di hadapan Allah ?

Apakah yang menahan lidah kita sehingga kaku dan kelu mengucapkan dzikir dan takbir ??

Apakah yang menahan hati kita sehingga sulit merindukan Allah ?

Apakah yang menahan pikirankita sehingga tidak mendambakan surga ?

Apakah yang mendorong jiwa kita sehingga cenderung ke neraka ?

Apakah yang menahan diri kita sehingga mengabaikan hak-hak Allah dan cenderung memperturutkan hawa nafsu padahal hawa nafsu itu mendorong kepada kejelekan

Apakah kesombongan kita sudah demikian memuncak, sehingga sedemikan lantang kita durhaka kepada Allah. Na’udzu billah min dzalik…

Ma’syiral muslimin rahimakumullah…

Berbahagialah kita karena hingga saat ini kita dimudahkan oleh Allah untuk bersujud, rukuk, dihadapan Allah. Janganlah karena perilaku kita yang menetang Allah menjadikan Allah semakin murka kepada kita. Janganlah karena kesombongan dan kebodohan kita menjadi sebab terhalangnya kita dari jalan surga dan menghalangi kita mendekati Allah swt. Maka bersyukur kepada Allah atas segala karunia ini. Karunia iman dan islam. Apalah artinya kesenangan sesaat di dunia tapi membawa penyesalan berkepanjangan di akherat kelak.

Apakah selepas ramadhan semakin dekat dengan Islam ataukah justru semakin jauh ?? hanya diri kita sendiri yang nanti akan membuktikan.

Oleh karena itu, ada tiga pesan dan kesan Ramadhan yang sudah semestinya kita pegang teguh bersama susudah Ramadhan yang mulia ini. 

Pesan pertama Ramadhan adalah Pesan moral atau Tahdzibun Nafsi

Artinya, kita harus selalu mawas diri pada musuh terbesar umat manusia, yakni hawa nafsu sebagai musuh yang tidak pernah berdamai. Rasulullah SAW bersabda: Jihad yang paling besar adalah jihad melawan diri sendiri. Di dalam kitab Madzahib fît Tarbiyah diterangkan bahwa di dalam diri setiap manusia terdapat nafsu/naluri sejak ia dilahirkan. Yakni naluri marah, naluri pengetahuan dan naluri syahwat. Dari ketiga naluri ini, yang paling sulit untuk dikendalikan dan dibersihkan adsalah naluri Syahwat.


Hujjatul Islam, Abû Hâmid al-Ghazâlî berkata: bahwa pada diri manusia terdapat empat sifat, tiga sifat berpotensi untuk mencelakakan manusia, satu sifat berpotensi mengantarkan manusia menuju pintu kebahagiaan. Pertama, sifat kebinatangan (بَهِيْمَةْ); tanda-tandanya menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan tanpa rasa malu. Kedua, sifat buas (سَبُعِيَّةْ) ; tanda-tandanya banyaknya kezhaliman dan sedikit keadilan. Yang kuat selalu menang sedangkan yang lemah selalu kalah meskipun benar. ketiga sifat syaithaniyah; tanda-tandanya mempertahankan hawa nafsu yang menjatuhkan martabat manusia.

Jika ketiga tiga sifat ini lebih dominan atau lebih mewarnai sebuah masyarakat atau bangsa niscaya akan terjadi sebuah perubahan tatanan social (keadaan masyarakat) yang sangat mengkhawatirkan. Dimana keadilan akan tergusur oleh kezhaliman, hukum bisa dibeli dengan rupiah, undang-undang bisa dipesan dengan Dollar, sulit membedakan mana yang hibah mana yang suap, penguasa lupa akan tanggungjawabnya, rakyat tidak sadar akan kewajibannya, seluruh tempat akan dipenuhi oleh keburukan dan kebaikan menjadi sesuatu yang terasing, ketaatan akhirnya dikalahkan oleh kemaksiatan dan seterusnya dan seterusnya.


Sedangkan satu-satunya sifat yang membahagiakan adalah sifat rububiyah (رُبُوْبِيَّةْ); ditandai dengan keimanan, ketakwaan dan kesabaran yang telah kita bina bersama-sama sepanjang bulan Ramadhan. Orang yang dapat mengoptimalkan dengan baik sifat rububiyah di dalam jiwanya niscaya jalan hidupnya disinari oleh cahaya Al-Qur'an, prilakunya dihiasi budi pekerti yang luhur (akhlaqul karimah). Selanjutnya, ia akan menjadi insan muttaqin, insan pasca Ramadhan, yang menjadi harapan setiap orang. Insan yang dalam hari raya ini menampakkan tiga hal sebagai pakaiannya: menahan diri dari hawa nafsu, memberi ma`af dan berbuat baik pada sesama manusia sebagaimana firman Allah:



وَاْلكَاظِمِيْنَ اْلغَيْظَ وَاْلعَافِيْنَ عَنِ النَّاسِ وَاللهُ يُحِبُّ اْلمُحْسِنِيْنَ


"…dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema'afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan." (QS Ali Imran: 134)


Jama`ah Idul Fithri yang berbahagia


Pesan kedua adalah pesan social



Pesan sosial Ramadhan ini terlukiskan dengan indah. Indah disini justru terlihat pada detik-detik akhir Ramadhan dan gerbang menuju bulan Syawwal. Dimana, ketika umat muslim mengeluarkan zakat fithrah kepada Ashnafuts Tsamaniyah (delapan kategori kelompok masyarakat yang berhak menerima zakat), terutama kaum fakir miskin tampak bagaimana tali silaturrahmi serta semangat untuk berbagi demikian nyata terjadi. Kebuntuan dan kesenjangan komunikasi dan tali kasih sayang yang sebelumnya sempat terlupakan tiba-tiba saja hadir, baik di hati maupun dalam tindakan. Semangat zakat fitrah ini melahirkan kesadaran untuk tolong menolong (ta`awun) antara orang-orang kaya dan orang-orang miskin, antara orang-orang yang hidupnya berkecukupan dan orang-orang yang hidup kesehariannya serba kekurangan, sejalan hatinya sebab كُلُّكُمْ عِيَالُ اللهِ , kalian semua adalah ummat Allah. 


Dalam kesempatan ini orang yang menerima zakat akan merasa terbantu beban hidupnya sedangkan yang memberi zakat mendapatkan jaminan dari Allah SWT; sebagaimana yang terkandung dalam hadis Qurthubi:


اِنّىِ رَأَيْتُ اْلبَارِحَةَ عَجَاً رَأَيْتُ مِنْ اُمَّتِى يَتَّقِى وَهَجَ النَّارَ وَشِرَرَهَا بِيَدِهِ عَنْ وَجْهِهِ فَجَائَتْ صَدَقَتُهُ فَصَارَتْ سِتْرًا مِنَ النَّارِ

Artinya: "Aku semalam bermimpi melihat kejadian yang menakjubkan. Aku melihat sebagian dari ummatku sedang melindungi wajahnya dari sengatan nyala api neraka. Kemudian datanglah shadaqah-nya menjadi pelindung dirinya dari api neraka."


Jama'ah sholat Idul Fitri rahimakumullah


Pesan ketiga adalah pesan jihad


Jihad yang dimaksud di sini, bukan jihad dalam pengertiannya yang sempit; yakni berperang di jalan Allah akan tetapi jihad dalam pengertiannya yang utuh, yaitu: 


بَذْلُ مَاعِنْدَهُ وَمَا فِى وُسْعِهِ لِنَيْلِ مَا عِنْدَ رَبِّهِ مِنْ جَزِيْلِ ثَوَابِ وَالنَّجَاةِ مِنْ اَلِيْمِ عِقَابِهِ


"Mengecilkan arti segala sesuatu yang dimilikinya demi mendapatkan keridhaannya, mendapatkan pahala serta keselamatan dari Siksa-Nya."


Pengertian jihad ini lebih komprehensif, karena yang dituju adalah mengorbankan segala yang kita miliki, baik tenaga, harta benda, atapun jiwa kita untuk mencapai keridhaan dari Allah; terutama jihad melawan diri kita sendiri yang disebut sebagai Jihadul Akbar, jihad yang paling besar. Dengan demikian, jihad akan terus hidup di dalam jiwa ummat Islam baik dalam kondisi peperangan maupun dalam kondisi damai. Jihad tetap dijalankan.


Dalam konteks masyarakat Indonesia saat ini, jihad yang kita butuhkan bukanlah jihad mengangkat senjata. Akan tetapi jihad mengendalikan diri dan mendorong terciptanya sebuah sistem sosial yang bermartabat, berkeadilan dan sejahtera serta bersendikan atas nilai-nilai agama dan ketaatan kepada Allah. 


Mengingat adanya aliran Islam yang mengkampanyekan jihad dengan senjata di negara damai Indonesia ini, maka perlu untuk ditekankan lebih dalam bahwa jihad seharusnya dilandasi niat yang baik dan dipimpin oleh kepala pemerintahan, bukan oleh kelompok atau aliran tertentu. Jangan sampai mengatasnamakan kesucian agama, akan tetapi tidak bisa memberikan garansi bagi kemaslahatan umat Islam. Islam haruslah didesain dan bergerak pada kemaslahatan masyarakat demi mencapai keridhaan Allah dan kemajuan ummat. Pengalaman pahit salah mengartikan jihad menjadikan Islam dipandang sebagai agama teroris. Padahal Islam sebenarnya adalah rahmat bagi alam semesta (rahmatan lil alamin), agama yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, keadilan, kedamaian.


Dalam konteks masyarakat Indonesia saat ini, jihad yang kita butuhkan adalah upaya mendukung terbangunnya sebuah sistem sosial yang bermartabat, berkeadilan dan sehatera yang bersendikan pada ketaatan kepada Allah. Jihad untuk mengendalikan hawa nafsu dari seluruh hal yang dapat

merugikan diri kita sendiri, terlebih lagi merugikan orang lain. 


Jama`ah Sholat Idul Fitri rahimakumullah



رُوِىَ اَنَّ بَعْضَ الصَّحَابَةِ قَالُوْا يَا نَبِيَّ اللهِ لَوَدَدْنَا اَنْ نَعْلَمَ اَيَّ التِّجَارَةِ اَحَبُّ اِلَى اللهِ فَنَتَجَرُّ فِيْهَا فَنُزِلَتْ (يآاَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا هَلْ اَدُلُّكُمْ عَلىَ تِجَارَةٍ تُنْجِيْكُمْ مِنْ عَذَابٍ اَلِيْمٍ. تُؤْمِنُوْنَ بِاللهِ وَرَسُوْلِهِ وَتُجَاهِدُوْنَ فِى سَبِيْلِ اللهِ بِاَمْوَالِكُمْ وَاَنْفُسِكُمْ ذَالِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ اِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ. يَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَيُدْخِلْكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِى مِنْ تَحْتِهَا اْلاَنْهَارُ وَمَسَاكِنَ طَيِّبَةً فِى جَنَّاتِ عَدْنٍ ذَلِكَ اْلفَوْزُ اْلعَظِيْمُ)

"Diriwayatkan bahwa sebagian sahabat mendatangi Rasulullah. Ketika berjumpa, salah seorang dari mereka berkata: "Wahai Nabi Allah, kami ingin sekali mengetahui bisnis apa yang paling dicintai oleh Allah agar kami bisa menjadikannya sebagai bisnis kami". Kemudian diturunkan ayat:



يآاَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا هَلْ اَدُلُّكُمْ عَلىَ تِجَارَةٍ تُنْجِيْكُمْ مِنْ عَذَابٍ اَلِيْمٍ. تُؤْمِنُوْنَ بِاللهِ وَرَسُوْلِهِ وَتُجَاهِدُوْنَ فِى سَبِيْلِ اللهِ بِاَمْوَالِكُمْ وَاَنْفُسِكُمْ ذَالِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ اِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ. يَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَيُدْخِلْكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِى مِنْ تَحْتِهَا اْلاَنْهَارُ وَمَسَاكِنَ طَيِّبَةً فِى جَنَّاتِ عَدْنٍ ذَلِكَ اْلفَوْزُ اْلعَظِيْمُ


Artinya: "Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih? yaitu) kamu beriman kepada Allah dan RasulNya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam jannah 'Adn. Itulah keberuntungan yang besar." (QS Ash-Shaff:10-12)

Dalam konteks sosial masyarakat kita saat ini, dimana masih banyak sektor sosial yang perlu pembenahan lebih lanjut. Maka makna jihad harus mengacu pada pengentasan masalah-masalah sosial. Oleh sebab itu, sudah selayaknya pada momentum lebaran saat ini, bukan hanya pakaian yang baru akan tetapi gagasan-gagasan baru juga harus dikedepankan untuk mengentaskan masalah-masalah sosial yang selama ini membelenggu kemajuan umat Islam Indonesia pada khususnya dan bangsa dan negara Indonesia pada umumnya.


اللهُ اَكْبَرْ (3×) وَ للهِ اْلحَمْدُ


Jama'ah Sholat Idul Fithri rahimakumullah


Demikianlah tiga pesan yang disampaikan oleh Ramadhan. Oleh sebab itu, marilah kita bersama-sama memikul tanggung jawab untuk merealisasikan ketiga pesan ini ke dalam bingkai kehidupan nyata. Marilah kita bersama-sama mengendalikan hawa nafsu kita sendiri, untuk tidak terpancing pada hal-hal yang terlarang dan merugikan orang lain; menjalin hubungan silaturrahim serta kerjasama sesama muslim tanpa membeda-bedakan status sosial, serta menyandang semangat jihad untuk membangun sebuah sistem sosial yang bermartabat, berkeadilan dan sejahtera.



اَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. وَاَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ ربِّهِ ونَهَيَ النَّفْسَ عَنِ اْلَهوَى فَاِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ اْلمَأْوَى. جَعَلَنَا اللهُ وَاِيَّاكُمْ مِنَ اْلعَائِدِيْنَ وَاْلفَائِزِيْنَ وَاْلمَقْبُوْلِيْنَ وَاَدْخَلَنَا وَاِيَّاكُمْ فِى زُمْرَةِ عِبَادِهِ الصَّالِحِيْنَ وَاَقُوْلُ قَوْلِى هَذَا وَاسْتَغْفِرُ لِى وَلَكُمْ وَلِوَالِدَيَّ وَلِسَائِرِ اْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرْهُ اِنَّهُ هُوَاْلغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ


KHUTBAH KEDUA


اللهُ اَكْبَرْ (3×) اللهُ اَكْبَرْ (4×) اللهُ اَكْبَرْ كبيرا وَاْلحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ الله بُكْرَةً وَ أَصْيْلاً لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَالللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ وَللهِ اْلحَمْدُ. اْلحَمْدُ للهِ عَلىَ اِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَاَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ لَهُ تَعْظِيْمًا لِشَأْنِهِ وَاَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى اِلىَ رِضْوَانِهِ اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَِعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَِثيْرًا. اَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا اَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَزَجَرَ.وَاعْلَمُوْا اَنَّ اللهّ اَمَرَكُمْ بِاَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى اِنَّ اللهَ وَمَلآ ئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ



Allahu akbar 3x Laa Ilaha illallah Allahu Akbar Walillahilhamd

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah



Akhirnya marilah kita berdoa, menundukkan kepala, memohon kepada Allah Yang Maha Rahman dan Maha Rahim untuk kebaikan kita dan umat Islam dimana saja berada:



اَللَّهُمَّ إِنَّا نَحْمَدُكَ وَنَسْتَعِيْنُكَ وَنَسْتَهْدِيْكَ وَنَعُوْذُ بِكَ وَنَتَوَكَّلُ عَلَيْكَ وَنُثْنِيْ عَلَيْكَ الْخَيْرَ كُلَّهُ نَشْكُرُكَ وَلاَ نَكْفُرُكَ وَنَخْلَعُ وَنَتْرُكُ مَنْ يَفْجُرُكَ اللَّهُمَّ إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَلَكَ نُصَلِّيْ وَنَسْجُدُ وَإِلَيْكَ نَسْعَى وَنَحْفِدُ نَرْجُو رَحْمَتَكَ وَنَخْشَى عَذَابَكَ إِنَّ عَذَابَكَ الْجِدَّ بِالْكُفَّارِ مُلْحَقٌ.



Ya Allah, sesungguhnya kami memuji-Mu, meminta tolong kepada-Mu, dan memohon petunjuk dari-Mu, kami berlindung dan bertawakal kepada-Mu, kami memuji-Mu dengan segala kebaikan, kami bersyukur atas semua nikmat-Mu, kami tidak mengingkari-Mu, kami berlepas diri dari siapa pun yang durhaka kepada-Mu. Ya Allah, hanya kepada-Mu kami menyembah, hanya untuk-Mu shalat dan sujud kami, dan hanya kepada-Mu kami berusaha dan bergegas, kami sangat mengharapkan rahmat-Mu dan takut akan siksa-Mu, sesungguhnya azab-Mu benar-benar ditimpakan kepada orang-orang kafir.



اَللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ بِالإِسْلاَمِ وَلَكَ الْحَمْدُ بِالإِيْمِانِ وَلَكَ الْحَمْدُ بِالْقُرْآنِ وَلَكَ الْحَمْدُ بِشَهْرِ رَمَضَانَ وَلَكَ الْحَمْدُ بِالأَهْلِ وَالْمَالِ وَالْمُعَافَاةِ لَكَ الْحَمْدُ بِكُلِّ نِعْمَةٍ أَنْعَمْتَ بِهَا عَلَيْنَا.



Ya Allah, segala puji hanya bagi-Mu atas nikmat Islam, nikmat Iman, nikmat Al-Qur’an, nikmat bulan Ramadhan, nikmat keluarga, harta dan kesehatan. Segala puji bagi-Mu atas semua nikmat yang telah Engkau anugerahkan kepada kami.



سُبْحَانَكَ لاَ نُحْصِيْ ثَنَاءً عَلَيْكَ أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ فَلَكَ الْحَمْدُ حَتَّى تَرْضَى وَلَكَ الْحَمْدُ إِذَا رَضِيْتَ.



Maha Suci Engkau, kami tidak akan sanggup menghitung dan membatasi pujian bagi-Mu. Keagungan-Mu hanya dapat diungkapkan dengan pujian-Mu kepada diri-Mu sendiri, segala puji hanya bagi-Mu (dari kami) sampai Engkau ridha (kepada kami) dan segala puji bagi-Mu setelah keridhaan-Mu.



اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى عَبْدِكَ ونَبِيِّكَ وَرَسُوْلِكَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.



Ya Allah, sampaikanlah shalawat, salam, dan keberkahan kepada hamba, nabi dan rasul-Mu Muhammad saw beserta seluruh keluarga dan sahabatnya.



اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدِيْنَا وَارْحَمْهُمْ كَمَا رَبَّوْنَا صِغَارًا.

Ya Allah, ampunilah kami dan ampuni pula kedua orang tua kami dan sayangilah mereka seperti kasih sayang mereka saat mendidik kami di waktu kecil.



رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ.

Ya Tuhan kami, kami telah menzhalimi diri sendiri, jika Engkau tidak mengampuni dan merahmati kami pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.



رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالإِيْمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلاًّ لِلَّذِيْنَ آمَنُوْا رَبَّنـَا إِنَّكَ رَؤُوْفٌ رَحِيْمٌ.

Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan dosa saudara-saudara kami yang telah mendahului kami dalam keimanan, dan janganlah Engkau jadikan di hati kami kedengkian terhadap orang-orang yang beriman, ya Tuhan kami sesungguhnya Engkau Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.



اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ رِضَاكَ وَالْجَنَّةَ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ وَعَمَلٍ وَنَعُوْذُ بِكَ مِنْ سَخَطِكَ وَالنَّارِ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ وَعَمَلٍ.

Ya Allah, kami memohon kepada-Mu ridha dan surga-Mu serta semua ucapan maupun perbuatan yang dapat mendekatkan kami kepadanya, dan kami berlindung kepada-Mu dari murka dan neraka-Mu serta semua ucapan maupun perbuatan yang dapat mendekatkan kami kepadanya.



اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِجَمِيْعِ مَوْتَى الْمُؤْمِنِيْنَ الَّذِيْنَ شَهِدُوْا لَكَ بِالْوَحْدَانِيَّةِ وَلِنَبِيِّكَ بِالرِّسَالَةِ وَمَاتُوْا عَلَى ذَلِكَ. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُمْ وَارْحَمْهُمْ وَعَافِهِمْ وَاعْفُ عَنْهُمْ وَأَكْرِمْ نُزُلَهُمْ وَوَسِّعْ مَدْخَلَهُمْ وَاغْسِلْهُمْ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ وَنَقِّهِمْ مِنَ الذٌّنُوْبِ وَالْخَطَايَا كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الأَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ وَجَازِهمْ بِالْحَسَنَاتِ إِحْسَانًا وَبِالسَّيِّئَاتِ عَفْوًا وَغُفْرَانًا.



Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kaum mukminin yang telah wafat dan telah bersaksi atas keesaan-Mu dan kerasulan nabi-Mu (Muhammad saw) dan mereka meninggal dalam keadaan demikian. Ya Allah, ampuni dan rahmatilah mereka, maafkan semua kesalahan mereka, muliakan tempat tinggalnya, luaskan kediamannya, sucikan mereka dengan air, salju, dan embun, bersihkan mereka dari berbagai dosa dan kesalahan sebagaimana pakaian putih dibersihkan dari kotoran. Dan balaslah amal kebaikan mereka dengan kebaikan pula, dan amal buruk mereka dengan maaf dan pengampunan.



اَللَّهُمَّ أَعِنَّا عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ يَا حَيُّ يَا قَيّوْمُ يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ.

Ya Allah, bantulah kami dalam berdzikir dan bersyukur serta beribadah kepada-Mu dengan baik, wahai Yang Maha Hidup lagi Berdiri Sendiri, Pemilik segala keagungan dan kemuliaan.



اَللَّهُمَّ نَحْنُ عَبِيْدُكَ بَنُوْ عَبِيْدِكَ بَنُوْ إِمَائِكَ نَوَاصِيْنَا بِيَدِكَ مَاضٍ فِيْنَا حُكْمُكَ عَدْلٌ فِيْنَا قَضَاؤُكَ نَسْأَلُكَ اَللَّهُمَّ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِيْ كِتَابِكَ أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ أَوِ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِيْ عِلْمِ الغَيْبِ عِنْدَكَ أَنْ تَجْعَلَ الْقُرْآنَ الْعَظِيْمَ رَبِيْعَ قُلُوْبِنَا وَنُوْرَ صُدُوْرِنَا وَجَلاَءَ أَحْزَانِنَا وَذَهَابَ هُمُوْمِنِا وَغُمُوْمِنَا وَسَائِقَنَا وَقَائِدَنَا إِلَى جَنَّاتِكَ جَنَّاتِ النَّعِيْمِ.

Ya Allah, kami adalah hamba-hamba-Mu, anak dari hamba-hamba-Mu laki-laki dan perempuan, ubun-ubun kami berada dalam tangan-Mu, telah berlaku atas kami hukum-Mu, adil pasti atas kami keputusan-Mu, kami memohon kepada-Mu dengan menggunakan semua nama yang menjadi milik-Mu dan Engkau namakan diri-Mu dengannya, atau nama yang Engkau turunkan dalam kitab suci-Mu, atau yang Engkau ajarkan kepada salah satu di antara hamba-Mu, atau dengan nama yang Engkau simpan dalam rahasia ghaib di sisi-Mu, jadikanlah Al-Qur’an yang agung ini taman bunga sepanjang musim di hati kami, jadikan ia cahaya di dada-dada kami, pelipur lara dan penghapus gulana, jadikan pula ia pembimbing kami menuju surga-Mu yang penuh kenikmatan.



اَللَّهُمَّ طَهِّرْ قُلُوْبَنَا بِالْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ اَللَّهُمَّ زَكِّ نُفُوْسَنَا  بِالْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ.

Ya Allah, bersihkan dan sucikan hati dan jiwa kami dengan Al-Qur’an yang mulia.



اَللَّهُمَّ ذَكِّرْنَا مِنْهُ مَا نَسِيْنَا وَعَلِّمْنَا مِنْهُ مَا جَهِلْنَا وَارْزُقْنَا تِلاَوَتَهُ آنَاءَ اللَّيْلِ وَأَطْرَافَ النَّهَارِ وَاجْعَلْهُ حُجَّةً لَنَا لاَ حُجَّةً عَلَيْنَا.

Ya Allah, ingatkan kami ayat Al-Qur’an yang terlupa, ajarkan kami darinya apa yang  tidak kami ketahui, berikan rezki kepada kami berupa kenikmatan membacanya malam dan siang, jadikan ia hujjah bagi kami jangan jadikan ia hujjah atas kami.



اَللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنْ أَهْلِ القُرْآنِ الَّذِيْنَ هُمْ أَهْلُكَ وَخَاصَّتُكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

Ya Allah, jadikanlah kami termasuk ahli Al-Qur’an yang menjadi keluarga-Mu dan hamba-hamba istimewa di sisi-Mu wahai Dzat Yang Maha Penyayang.



اَللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِمَّنْ يُقِيْمُ حُرُوْفَهُ وَحُدُوْدَهُ وَلاَ تَجْعَلْنَا مِمَّنْ يُقِيْمُ حُرُوْفَهُ وَيُضَيِّعُ حُدُوْدَهُ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang menegakkan huruf-huruf Al-Qur’an dan hukum-hukumnya, dan jangan Engkau jadikan kami golongan orang yang menegakkan huruf-hurufnya namun mengabaikan hukum-hukumnya, dengan rahmat-Mu wahai Dzat Yang Maha Penyayang.



اَللَّهُمَّ آتِ نُفُوْسَنَا تَقْوَاهَا وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلاَهَا

Ya Allah, berikan kepada jiwa-jiwa kami ketakwaan kepadamu, dan sucikan dia, Engkaulah sebaik-baik Zat Yang Menyucikan jiwa, Engkaulah Pelindung dan Penolongnya.

اَللَّهُمَّ يَا حَيُّ يَا قَيّوْمُ يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ يَا مُجِيْبَ دَعْوَةِ الْمُضْطَرِّ إِذَا دَعَاكَ نَسْأَلُكَ مُوْجِبَاتِ رَحْمَتِكَ وَالْعَزِيْمَةَ عَلَى الرُّشْدِ وَالغَنِيْمَةَ مِنْ كُلِّ بِرٍّ وَالسَّلاَمَةَ مِنْ كُلِّ إِثْمٍ وَالْفَوْزَ بِالْجَنَّةِ وَالنَّجَاةَ مِنَ النَّارِ.

Ya Allah Yang Maha Hidup lagi Berdiri Sendiri, Pemilik segala keagungan dan kemuliaan, Yang Maha Mengabulkan doa orang yang berada dalam kesulitan, kami memohon kepada-Mu berbagai penyebab turunnya rahmat-Mu, tekad dan kekuatan untuk meniti jalan yang lurus, limpahan segala kebajikan, keselamatan dari segala dosa, kemenangan meraih surga dan keselamatan dari azab neraka.



اَللَّهُمَّ يَا حَيُّ يَا قَيّوْمُ يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ نَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى.

Ya Allah Yang Maha Hidup lagi Berdiri Sendiri, Pemilik segala keagungan dan kemuliaan, kami memohon kepada-Mu petunjuk, ketakwaan, kesucian diri dan kekayaan.



اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ مِنَ الْخَيْرِ كُلِّهِ عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ مَا عَلِمْنَا مِنْهُ وَمَا لَمْ نَعْلَمْ وَنَعُوْذُ بِكَ مِنَ الشَّرِّ كُلِّهِ عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ مَا عَلِمْنَا مِنْهُ وَمَا لَمْ نَعْلَمْ.

Ya Allah, kami memohon kepada-Mu segala kebaikan di dunia dan akhirat yang kami ketahui maupun yang tidak kami ketahui, dan kami berlindung kepada-Mu dari semua keburukan di dunia dan akhirat yang kami ketahui maupun yang tidak kami ketahui.



اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ خَيْرَ مَا سَأَلَكَ عَبْدُكَ وَرَسُوْلُكَ مُحَمَّدٌ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعِبَادُكَ الصَّالِحُوْنَ وَنَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا اسْتَعَاذَكَ مِنْهُ عَبْدُكَ وَرَسُوْلُكَ مُحَمَّدٌ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعِبَادُكَ الصَّالِحُوْنَ.

Ya Allah, kami memohon kepadamu segala kebaikan yang telah diminta hamba dan rasul-Mu Muhammad saw dan hamba-hamba-Mu yang shalih, dan kami berlindung kepadamu dari segala keburukan yang mereka telah berlindung darinya kepada-Mu.



اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِيْنَنَا الَّذِيْ هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتِيْ فِيْهَا مَعَاشُنَا وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِيْ إَلَيْهَا مَعَادُنَا وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِيْ كُلِّ خَيْرٍ وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شَرٍّ.

Ya Allah, perbaikilah agama kami yang merupakan penjaga urusan kami, perbaikilah dunia kami yang menjadi tempat hidup kami, dan perbaikilah akhirat kami karena dialah tempat kembali kami.  Jadikan kehidupan ini sebagai penambah segala kebaikan bagi kami, dan jadikan kematian sebagai kebebasan kami dari segala keburukan.



اَللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ جَهْدِ الْبَلاَءِ وَدَرْكِ الشَّقَاءِ وَسُوْءِ الْقَضَاءِ وَشَمَاتَةِ الأَعْدَاءِ.

Ya Allah, kami berlindung kepada-Mu dari sulitnya bencana, beratnya penderitaan, buruknya takdir, dan tepuk tangan musuh.



اَللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَسِيْحِ الدَّجَّالِ.

Ya Allah, kami berlindung kepada-Mu dari siksa Jahanam, dari siksa kubur, dari fitnah kehidupan dan kematian, serta dari fitnah Dajjal.



اَللَّهُمَّ طَهِّرْ قُلُوْبَنَا مِنَ النِّفَاقِ وَأَعْمَالَنَا مِنَ الرِّيَاءِ وَأَلْسِنَتَنَا مِنَ الْكَذِبِ وَأَعْيُنَنَا مِنَ الْخِيَانَةِ إِنَّكَ تَعْلَمُ خَائِنَةَ الأَعْيُنِ وَمَا تُخْفِي الصُّدُوْرُ.

Ya Allah, bersihkanlah hati kami dari kemunafikan, amal kami dari riya, lisan kami dari dusta, dan bersihkan mata kami dari khianat, sesungguhnya Engkau mengetahui pengkhianatan mata dan apa yang disembunyikan dalam dada.



اَللَّهُمَّ اكْفِنَا بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَبِطَاعَتِكَ عَنْ مَعْصِيَتِكَ وَبِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ يَا حَيُّ يَا قَيّوْمُ يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ.

Ya Allah, cukupkan diri kami dengan yang halal dari yang haram, dengan ketaatan kepada-Mu dari maksiat kepada-Mu,  dan dengan karunia-Mu dari selain-Mu, wahai Yang Maha Hidup lagi Berdiri Sendiri, Pemilik segala keagungan dan kemuliaan.

اَللَّهُمَّ أَعْتِقْ رِقَابَنَا مِنَ النَّارِ وَأَوْسِعْ لَنَا مِنَ الرِّزْقِ الْحَلاَلِ وَاصْرِفْ عَنَّا فَسَقَةَ الْجِنِّ وَالإِنْسِ يَا حَيُّ يَا قَيّوْمُ يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ.

Ya Allah, bebaskan diri kami dari api neraka, lapangkan untuk kami rezki yang halal, dan jauhkan kami dari jin dan manusia yang fasik, wahai Yang Maha Hidup lagi Berdiri Sendiri, Pemilik segala keagungan dan kemuliaan.



اَللَّهُمَّ اجْعَلْ خَيْرَ أَعْمَالِنَا آخِرَهَا وَخَيْرَ أَعْمَارِنَا خَوَاتِمَهَا وَخَيْرَ أَيَّامِنَا يَوْمَ لِقَائِكَ.

Ya Allah, jadikanlah amal kami yang terbaik adalah akhirnya, dan umur kami yang terbaik adalah penghujungnya, dan hari terbaik kami adalah hari bertemu Engkau.



اَللَّهُمَّ آنِسْ وَحْشَتَنَا فِي الْقُبُوْرِ وَآمِنْ خَوْفَنَا يَوْمَ الْبَعْثِ وَالنُّشُوْرِ وَيَسِّرْ لَنَا يَا إِلهَنَا الأُمُوْرَ يَا حَيُّ يَا قَيّوْمُ يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ.

Ya Allah, hiburlah kami ketika sendirian dalam kubur, hilangkan ketakutan kami ketika dibangkitkan dari kubur, dan mudahkan semua urusan kami, Ya Tuhan kami, wahai Yang Maha Hidup lagi Berdiri Sendiri, Pemilik segala keagungan dan kemuliaan.



اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلاَةَ أُمُوْرِ الْمُسْلِمِيْنَ، وَوَفِّقْهُمْ لِلْعَدْلِ فِيْ رَعَايَاهُمْ وَالرِّفْقِ بِهِمْ وَالاِعْتِنَاءِ بِمَصَالِحِهِمْ وَحَبِّبْهُمْ إِلَى الرَّعِيَّةِ وَحَبِّبِ الرَّعِيَّةَ إِلَيْهِمْ.

Ya Allah, perbaikilah (akhlaq) para pemimpin kaum muslimin, bimbinglah mereka dalam menegakkan keadilan, menyayangi, dan memperhatikan kepentingan rakyat. Tumbuhkan kecintaan rakyat kepada mereka dan kecintaan mereka kepada rakyat.



اَللَّهُمَّ وَفِّقْهُمْ لِصِرَاطِكَ الْمُسْتَقِيْمِ وَالْعَمَلِ بِوَظَائِفِ دِيْنِكَ الْقَوِيْمِ وَاجْعَلْهُمْ هُدَاةً مُهْتَدِيْنَ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

Ya Allah, bimbinglah mereka ke jalan-Mu yang lurus, agar bekerja demi agama-Mu yang benar, jadikan mereka teladan yang mendapat petunjuk-Mu, dengan rahmat-Mu wahai Dzat Yang Maha Penyayang.



اَللَّهُمَّ وَفِّقْهُمْ لِلْعَمَلِ بِكِتَابِكَ وَسُنَّةِ نَبِيِّكَ وَالْحُكْمِ بِشَرِيْعَتِكَ وَإقَامَةِ حُدُوْدِكَ.

Ya Allah, bimbinglah mereka agar bekerja sesuai kitab-Mu, sunnah Nabi-Mu, memutuskan dengan syariat-Mu, dan menegakkan hukum-hukum-Mu.



اَللَّهُمَّ وَفِّقْهُمْ لإِزَالَةِ الْمُنْكَرَاتِ وَإِظْهَارِ الْمَحَاسِنِ وَأَنْوَاعِ الْخَيْرَاتِ.

Ya Allah, tuntunlah mereka untuk memberantas kemunkaran dan menampilkan segala bentuk kebaikan.



اَللَّهُمَّ اجْعَلْهُمْ آمِرِيْنَ بِالْمَعْرُوْفِ فَاعِلِيْنَ لَهُ نَاهِيْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ تَارِكِيْنَ لَهُ.

Ya Allah, jadikanlah mereka para penyeru kebaikan yang melaksanakannya, penghalang kemunkaran yang meninggalkannya.



اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ أَحْوَالَ الْمُسْلِمِيْنَ وَأَرْخِصْ أَسْعَارَهُمْ وَآمِنْهُمْ فِيْ أَوْطَانِهِمْ.

Ya Allah, perbaikilah keadaan kaum muslimin, murahkanlah harga-harga kebutuhan hidup mereka, dan jadikanlah mereka aman sentosa di tanah air mereka.



اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ شَبَابَ الْمُسْلِمِيْنَ وَحَبِّبْ إِلَيْهِمُ الإِيْمَانَ وَزَيِّنْهُ فِيْ قُلُوْبِهِمْ وَكَرِّهْ إِلَيْهِمُ الْكُفْرَ وَالْفُسُوْقَ وَالْعِصْيَانَ وَاجْعَلْهُمْ مِنَ الرَّاشِدِيْنَ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

Ya Allah, perbaikilah keadaan para pemuda kaum muslimin, jadikan mereka para pencinta keimanan dan jadikan iman itu indah dalam hati mereka, bencikan mereka terhadap kekafiran, kefasikan dan kemaksiatan, dan jadikan mereka orang-orang yang lurus, dengan rahmat-Mu wahai Dzat Yang Maha Penyayang.



اَللَّهُمَّ يَا حَيُّ يَا قَيّوْمُ يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ يَا مُجِيْبَ دَعْوَةِ الْمُضْطَرِّ إِذَا دَعَاكَ نَسْأَلُكَ أَنْ تُعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِميْنَ وَأَنْ تُذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ وَأَنْ تُدَمِّرَ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَأَنْ تَجْعَلَ هَذَا الْبَلَدَ آمِنًا مُطْمَئِنًّا وَسَائِرَ بِلاَدِ الإِسْلاَمِ وَالْمُسْلِمِيْنَ.

Ya Allah Yang Maha Hidup lagi Berdiri Sendiri, Pemilik segala keagungan dan kemuliaan, Yang Maha Mengabulkan doa orang yang berada dalam kesulitan, kami memohon kepadamu agar Engkau memuliakan Islam dan kaum muslimin, menghinakan kemusyrikan dan orang-orang musyrik, menghancurkan musuh-musuh agama, dan menjadikan negeri ini dan negeri-negeri kaum muslimin lainnya aman dan tenteram.



اَللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ الْمُجَاهِدِيْنَ فِي سَبِيْلِكَ فِي كُلِّ مَكَانٍ. اَللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ الْمُجَاهِدِيْنَ فِي فِلِسْطِيْنَ، اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ أَنْ تُحَرِّرَ الْمَسْجِدَ الأَقْصَى وَأَرْضَ فِلِسْطِيْنَ، اَللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ الْمُجَاهِدِيْنَ مِنْ جُنُوْدِ حَمَاس. اَللَّهُمَّ انْصُرَْإِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ الْمُجَاهِدِيْنَ فِي أَفْغَانِسْتَان، وَإِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ الْمُجَاهِدِيْنَ فِي كَشْمِيْرَ، وَإِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ الْمُجَاهِدِيْنَ فِي الْعِرَاقِ، وَإِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ الْمُجَاهِدِيْنَ فِي الشِّيْشَانِ، وَإِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ الْمُجَاهِدِيْنَ فِي سَائِرِ بِلاَدِ الإِسْلاَمِ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ.

Ya Allah, tolonglah dan menangkanlah saudara-saudara kami kaum muslimin para mujahidin di jalan-Mu di mana pun mereka berada. Tolonglah saudara-saudara kami kaum muslimin para mujahidin Palestina, bebaskan Masjid Aqsha dan tanah Palestina dari perampok Yahudi, tolonglah saudara-saudara kami kaum muslimin para pejuang Hamas. Ya Allah, bantulah pula saudara-saudara kami kaum muslimin para mujahidin di Afghanistan, Kasymir, Irak, Chechnya, dan negeri-negeri kaum muslimin yang lain, wahai Penguasa alam semesta.



اَللَّهُمَّ أَفْرِغْ عَلَيْهِمْ صَبْرًا وَثَبِّتْ أَقْدَامَهُمْ وَانْصُرْهُمْ عَلَى عَدُوِّكَ وَعَدُوِّهِمْ.

Ya Allah, berikan kesabaran kepada mereka, teguhkan pendirian mereka, dan tolonglah mereka atas musuh-Mu dan musuh mereka.



اَللَّهُمَّ اكْتُبِ الشَّهَادَةَ عَلَى مَوْتَاهُمْ وَاكْتُبِ السَّلاَمَةَ عَلَى أَحْيَائِهِمْ.

Ya Allah, tetapkan kesyahidan bagi yang gugur di antara mereka, dan berikan keselamatan kepada yang masih hidup.

رَبَّنَا اصْرِفْ عَنَّا عَذَابَ جَهَنَّمَ إِنَّ عَذَابَهَا كَانَ غَرَامًا.

Ya Tuhan kami, jauhkan azab jahannam dari kami, sesungguhnya azabnya itu adalah kebinasaan yang kekal.



رَبَّنَا لاَتُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ.

Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu, sesungguhnya Engkau lah Maha Pemberi (karunia).



رَبَّنَا إِنَّنَا آمَنَّا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوْبَنَا وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah beriman, maka ampunilah dosa kami dan peliharalah kami dari siksa neraka.



رَبَّنَا آتِنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا.

Ya Tuhan kami, berikan rahmat kepada kami dari sisi-Mu, dan sempurnakan bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami.



اَللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لاَ يَنْفَعُ وَمِنْ قُلُوْبٍ لاَ تَخْشَعُ وَمِنْ نُفُوْسٍ لاَ تَشْبَعُ وَمِنْ دَعْوَةٍ لاَ يُسْتَجَابُ لَهَا.

Ya Allah, sesungguhnya kami berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyu’, dari nafsu yang tidak pernah kenyang, dan dari doa yang tidak dikabulkan.



رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ.

Ya Tuhan kami, kami telah menzhalimi diri sendiri, jika Engkau tidak mengampuni dan merahmati kami pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.



رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

Ya Tuhan kami, berikanlah kepada kami kebaikan di dunia dan akhirat, dan peliharalah kami dari api neraka.



رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ.

Ya Tuhan kami, terimalah dari kami (amal dan doa kami), sesungguhnya Engkaulah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui, dan ampunilah kami, sesungguhnya Engkau Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.

وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ. وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ. وَالْحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.

Semoga shalawat senantiasa tercurah kepada pemimpin kami Muhammad saw, keluarga dan sahabatnya semua. Maha suci Tuhanmu Pemilik kemuliaan dari apa yang mereka persekutukan. Semoga salam sejahtera selalu tercurah kepada para rasul dan segala puji hanya bagi Tuhan semesta alam.

| | Read More »